Oleh : Drs.H.Marlis,MM,C.Med ( CEO ALINIA GROUP )

OPINI — Salah satu kelelahan terbesar dalam hidup bukanlah bekerja keras, melainkan terus-menerus berusaha menjadi seseorang yang bisa diterima oleh semua orang.

Kita ingin dimengerti, dihargai, diterima, bahkan disukai. Itu manusiawi. Namun persoalan muncul ketika keinginan tersebut membuat kita mulai mengubah prinsip, karakter, bahkan jati diri hanya agar sesuai dengan harapan orang lain.

Padahal, tidak semua orang harus menyukai kita.

Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai karakter manusia. Ada yang memahami kita, ada yang salah menilai. Ada yang menghargai ketulusan kita, ada pula yang tetap mencari kekurangan meskipun kita sudah berusaha memberikan yang terbaik.

Karena itu, kedewasaan bukan diukur dari seberapa banyak orang yang menyukai kita, tetapi dari seberapa kuat kita tetap menjadi diri sendiri tanpa kehilangan kemampuan menghargai orang lain.

Jangan Mengubah Warna Hanya untuk Diterima

Setiap manusia memiliki “warna”: prinsip, karakter, pengalaman, cara berpikir, serta nilai-nilai yang diyakininya.

Perbedaan warna itulah yang membuat kehidupan menjadi kaya.

Maka jangan memaksakan diri menjadi warna yang disukai semua orang. Sebab ketika kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain, perlahan kita bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: identitas diri.

Kita boleh memperbaiki kekurangan. Kita harus terbuka terhadap kritik. Kita perlu belajar menyesuaikan diri. Tetapi beradaptasi berbeda dengan kehilangan prinsip.

Berubah menjadi lebih baik adalah pertumbuhan.

Berubah hanya supaya disukai semua orang adalah tekanan.

Lingkungan yang Tepat Tidak Memaksa Kita Berpura-pura

Ada satu hal penting dalam memilih lingkungan pertemanan, pekerjaan maupun organisasi: carilah orang-orang yang membuat kita bertumbuh tanpa memaksa kita kehilangan diri sendiri.

Orang yang tepat tidak selalu mengiyakan semua pendapat kita. Bahkan sahabat terbaik terkadang justru orang yang berani mengkritik ketika kita keliru.

Namun kritik mereka bertujuan memperbaiki, bukan merendahkan. Perbedaan mereka memperkaya, bukan menghancurkan.

Lingkungan yang sehat bukan tempat semua orang memiliki warna yang sama, tetapi tempat berbagai warna dapat hidup berdampingan dengan saling menghargai.

Tidak Disukai Bukan Berarti Kita Gagal

Seorang pemimpin, pengusaha, profesional, bahkan siapa pun yang memiliki prinsip hampir mustahil menyenangkan semua orang.

Semakin banyak keputusan yang kita ambil, semakin besar kemungkinan munculnya orang yang tidak setuju.

Karena itu, jangan menjadikan tepuk tangan sebagai ukuran kebenaran.

Jika keputusan kita benar, niat kita baik, prosesnya dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak merugikan orang lain, maka tidak perlu menghabiskan energi hanya untuk mengejar pengakuan semua pihak.

Hidup terlalu singkat untuk terus menjelaskan diri kepada orang yang memang memilih untuk tidak memahami kita.

Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan seluruh dunia untuk menerima warna kita.

Kita hanya membutuhkan lingkungan yang menghargai keberadaan kita, sahabat yang berani mengingatkan, keluarga yang menguatkan, serta orang-orang yang membuat kita tetap nyaman menjadi diri sendiri sekaligus terus bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Tetaplah menjadi warna terbaik dari diri kita.

Sebab orang yang tepat tidak akan meminta kita kehilangan warna agar bisa berjalan bersama mereka. (*/ Marlis – CEO ALINIA GROUP )