Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med [ CEO ALINIA GROUP ]
Nusatime.id – Menjadi pemimpin bukan hanya tentang kemampuan mengarahkan orang lain. Leadership sesungguhnya terlihat dari bagaimana seseorang mengendalikan dirinya ketika menghadapi tekanan, fitnah, kekecewaan, bahkan pengkhianatan. Siapa pun bisa bersikap baik ketika diperlakukan baik. Tetapi hanya pemimpin berkelas yang mampu menjaga karakter ketika diperlakukan tidak baik. Seorang pemimpin tidak harus membalas setiap serangan. Tidak pula harus menjelaskan dirinya kepada semua orang. Sebab semakin tinggi posisi kepemimpinan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk mampu memilah mana yang perlu dijawab, mana yang cukup diluruskan, dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu.
Menjadi baik bukan berarti menjadi lemah.
Pemimpin harus tetap memiliki batas, prinsip, dan keberanian mengambil keputusan. Memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan terus berulang. Bersikap tenang bukan berarti takut menghadapi konflik. Dan memilih tidak membalas bukan berarti tidak mampu melawan.
Leadership adalah keseimbangan antara hati yang baik dan sikap yang tegas.

Pemimpin besar tidak membiarkan keburukan orang lain menentukan kualitas dirinya. Ia tetap fokus pada tujuan, menjaga integritas, membangun kepercayaan, dan membuktikan kepemimpinannya melalui tindakan serta hasil. Pada akhirnya, waktu akan memperlihatkan kualitas setiap orang. Karena jabatan dapat membuat seseorang memiliki kekuasaan, tetapi karakterlah yang membuat seseorang pantas disebut PEMIMPIN.
Tetap tenang. Tetap berintegritas. Tetap tegas. Dan teruslah memimpin dengan keteladanan.
[ Drs.H.Marlis,MM, C.Med – CEO ALINIA GROUP ]



Tinggalkan Balasan