Rangkuman Utama
  • Keputusan Semen Padang FC untuk memindahkan markas ke Pulau Jawa dinilai berdampak negatif terhadap motivasi dan performa tim akibat hilangnya dukungan langsung dari suporter yang berfungsi sebagai "pemain ke-12".
  • Perpindahan homebase yang jauh dari daerah asal berpotensi merenggangkan ikatan emosional dengan fans lokal serta menyulitkan suporter akar rumput karena kendala biaya dan waktu perjalanan.
  • Mantan pemain Semen Padang, Joni Effendi, menyarankan manajemen untuk memilih stadion alternatif yang lebih dekat dari Sumatra Barat, seperti di Provinsi Riau, guna menjaga kehadiran dan dukungan langsung dari para suporter.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang-Hengkangnya Semen Padang FC dan memilih kandang di Pulau Jawa sedikit banyaknya akan memengaruhi suasana tim. Salah satunya dukungan yang selama ini masif dari para suporter.

Mantan pemain Semen Padang, Joni Effendi menyatakan, dukungan yang masif dari suporter adalah energi penggerak utama yang mampu meningkatkan motivasi dan performa sebuah tim. Kehadiran mereka secara langsung atau gemuruh yel-yel di tribun sering kali disebut sebagai “pemain ke-12” yang memberikan dampak psikologis luar biasa bagi para pemain di lapangan. Suasana ini tentu tidak akan didapat bila klub memilih kandang yang jaraknya jauh dari asal klub,” ujar Joni Efendi

“Klub sepakbola yang berpindah markas (homebase), keluar kota sering kali membuat suporter reguler kesulitan untuk hadir secara langsung. Suporter akar rumput (grassroots) yang biasanya menjadi nyawa di tribun penonton sering terkendala biaya dan waktu,”ujarnya.

Selain itu, katanya, nama klub yang melekat erat dengan nama daerah asalnya. Ketika mereka berpindah ke luar daerah, ikatan emosional dengan masyarakat setempat atau local fansmenjadi renggang.

“Bagi suporter, perpindahan ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan ujian loyalitas dan ancaman terhadap identitas serta sejarah klub. Ini tantangan besar,” tegasnya.

Dijelaskannya, bila tetap berkandang di daerah asal, banyak keuntungan yang didapat, mulai dari pemasukan juga teriakan dan koreografi dari suporter akan membakar semangat juang para pemain, terutama di saat-saat kritis.

Stadion yang dipenuhi lautan pendukung fanatik dapat mengintimidasi mental tim tamu sekaligus merusak konsentrasi mereka,” jelasnya.

Sebagai mantan pemain Semen Padang, Joni berharap, manajemen Kabau Sirah memilih kandang tidak jauh dari Sumbar.  “Agar dukungan suporter tidak hilang, pilih lah kandang yang terjangkau dari para suporter. Kalau tidak bisa stadion lain di Sumbar pilihlah stadion tetangga seperti di Riau,” pintanya. (sal)