- Banyak talenta sepak bola usia dini di Sumatera Barat gagal berkembang ke level profesional akibat pola pembinaan yang tidak berkesinambungan.
- Fokus Sekolah Sepak Bola (SSB) dan orang tua yang lebih mengejar kemenangan instan ketimbang pembentukan fondasi teknik serta mental merusak perkembangan jangka panjang pemain muda.
- Minimnya wadah kompetisi resmi berjenjang untuk kelompok usia 18 tahun ke atas menjadi faktor utama terputusnya jalur transisi talenta muda menuju tingkat senior.
Padang-Mengapa banyak talenta emas usia dini di Indonesia termasuk di Sumatera Barat (Sumbar) layu sebelum usia 18 tahun.
Pertanyaan itu, sering muncul di benak pencinta sepakbola Ranah Minang. “Beberapa kali saya melihat iven usia dini yang diikuti para pemain muda di Sumbar ini, banyak talenta saya lihat, tapi setelah beranjak dewasa, talenta yang saya lihat itu, tidak muncul lagi. Kalaupun ada masih bermain, tapi kualitasnya sangat jauh dari yang saya pantau ketika usia dini,” ujar Adek pencinta sepakbola Sumbar kepada nusatime.id di Padang, Sabtu (25/7/26).
Memang, setiap tahun, ratusan anak di Sumbar ini menjadi juara di iven usia dini. Tapi, cuma segelintir yang benar-benar sampai ke level profesional.
Menurut instruktur dan pelatih muda asal Sumbar, Dian, tidak berkembangnya pemain muda kala dewasa, atau sulit naik level tentu banyak faktur. Saat usia dini, para pelaku memaksa pemain untuk menang turnamen bukan mengembangkan bakat anak.
“Banyak SSB dan orang tua kejar piala di usia 10-12 tahun. Padahal di usia itu yang harus dibangun adalah fondasi teknik dan mental. Bukan hasil instan,” ujar Dian.

Katanya, anak yang dari kecil dielu-elukan bakal menjadi calon pemain hebat, sering kehilangan motivasi dari dalam diri. Begitu hasil tak sesuai ekspektasi, mentalnya jatuh lebih dulu dari pada skilnya.
“Kita sering melakukan pujian dari dini, akibatnya mental mereka jadi rapuh. Istilahnya, dipuji terlalu dini, jatuh terlalu keras,” terangnya.
Dijelaskan Dian, selain itu, faktor yang membuat talenta muda yang awalnya bersinar dan akhirnya hilang dari peredaran dunia sepakbola, karena tidak menemukan jembatan ke level senior. Apalagi dari usia 18 tahu ke atas, kompetisi resmi berjenjang sangat terbatas.
“Banyak pemain potensial berhenti bukan kalah bersaing, tapi tidak ada tempat lanjutan untuk berkembang. Karena minimnya kompetisi yang resmi. Selain itu, jembatan ke level senior terhalang dari faktor non teknis,” jelasnya.
“Yang harus kita pahami secara bersama-sama, bakat itu cuma titik awal. Yang menentukan sampai di mana pemain bisa berkembang adalah sistem di sekitarnya, terutama pelatih dan orang tua dan kompetisi yang bagus,” tambahnya. (sal)



Tinggalkan Balasan