- Asprov PSSI Sumatera Barat mewajibkan seluruh Sekolah Sepak Bola (SSB) dan klub peserta Piala Soeratin U-13 dan U-15 2026 untuk mengantongi status terafiliasi resmi.
- Seluruh proses pendaftaran SSB, pemain, dan ofisial dialihkan secara digital melalui Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) guna menghentikan sistem registrasi manual.
- Penerapan sistem terintegrasi ini bertujuan mencegah pemalsuan dokumen usia, menjamin hak kompensasi pembinaan bagi SSB, serta membangun ekosistem sepak bola usia dini yang transparan dan akuntabel.
PADANG — Langkah tegas diambil oleh Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Sumatera Barat dalam menata ekosistem sepak bola usia dini di wilayahnya.
Menjelang bergulirnya ajang bergengsi Piala Soeratin 2026 untuk kelompok umur U-13 dan U-15, PSSI Sumbar secara resmi mewajibkan seluruh Sekolah Sepak Bola (SSB) dan klub peserta untuk mengantongi status terafiliasi resmi.
Aturan ini bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan syarat mutlak yang menentukan apakah suatu tim berhak menerjunkan pemain mudanya di lapangan hijau atau terpaksa gigit jari menjadi penonton.
Sekretaris Asprov PSSI Sumbar, Hendra Dupa, menegaskan bahwa penataan ini bertujuan untuk membangun fondasi sepak bola modern yang akuntabel dan transparan di Sumatera Barat. Tidak ada lagi jalur pendaftaran manual yang rentan terhadap manipulasi data usia atau status kepemilikan pemain.
“Seluruh peserta yang akan berpartisipasi dalam kompetisi tersebut wajib terafiliasi dengan PSSI Provinsi Sumbar. Seluruh pendaftaran dilakukan melalui sistem SIAP (Sistem Informasi dan Administrasi PSSI), baik untuk pendaftaran sekolah sepak bola, pemain, maupun ofisial,” tegas Hendra Dupa saat memberikan keterangan resmi di Padang, Jumat (7/8/2026).

Skema ini mengikat seluruh jajaran keanggotaan tanpa terkecuali. Klub Profesional yang berada di bawah naungan PSSI. Klub Amatir anggota Asprov PSSI Sumbar. Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terdaftar resmi di wilayah Sumatera Barat.
Penerapan integrasi data melalui sistem SIAP membawa misi besar dalam pembenahan kualitas kompetisi pembinaan. Di mana setiap SSB dan pemain akan memiliki rekam jejak digital yang valid, meminimalkan potensi sengketa kepemilikan pemain di kemudian hari.
Selain itu, verifikasi ketat lewat SIAP menjadi benteng utama untuk memberantas praktik pemalsuan dokumen umur yang kerap merusak sportivitas di ajang Soeratin.
“SSB yang melahirkan bakat-bakat muda akan tercatat secara resmi, sehingga hak atas pengembangan pemain (training compensation) terjamin jika sang pemain kelak menembus level profesional,” terangnya.
PSSI Sumbar juga mengingatkan seluruh pengurus klub dan pengelola SSB agar tidak menunda penyelesaian berkas administrasi. Ketepatan waktu pendaftaran menjadi kunci agar persiapan teknis tim di lapangan tidak terganggu oleh kendala dokumen.
“Melalui standarisasi ini, Sumatera Barat bertekad tidak hanya menjadi penyumbang kuantitas kompetisi, tetapi juga penghasil talenta muda berkarakter yang siap bersaing di kancah nasional hingga memperkuat Tim Nasional Indonesia di masa depan,”’harapannya. (sal)



Tinggalkan Balasan