Rangkuman Utama
  • DPN ASANTARA mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkret melalui penyediaan pelatihan terstruktur demi meningkatkan kompetensi jurnalis di tengah tantangan kecerdasan buatan (AI) dan fenomena zero-click.
  • Industri media diminta menghentikan budaya target kuantitas berita harian dan mulai memprioritaskan pengembangan SDM untuk menghasilkan karya jurnalistik mendalam (in-depth journalism) yang berkualitas.
  • Peningkatan literasi media bagi publik dinilai krusial agar masyarakat tidak bertumpu pada rangkuman instan berbasis AI serta tetap memprioritaskan informasi yang terverifikasi dan taat Kode Etik Jurnalistik.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG— Dewan Pimpinan Nasional (DPN) ASANTARA menegaskan krusialnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pers nasional di tengah masifnya tantangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan fenomena zero-click.

Tantangan disrupsi digital saat ini menuntut para wartawan untuksemakin kompeten, menjunjung tinggi etika, serta konsisten menghasilkan karya jurnalistik yang mendalam dan berbotot.

Dewan Pengawas DPN ASANTARA sekaligus Mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumbar,Mufti Syarfie, menilai bahwa pemerintah tidak boleh sekadar bersikap pasif atau sekadar mengimbau keberadaan tantangan zero-click yang mengancam industri pers. Menurutnya, pemerintah harus mengambil langkah aktif dan menghadirkan solusi konkret demi menjaga keberlangsungan pers yang sehat dan kredibel.

Salah satu bentuk dukungan konkret yang mendesak adalah penyediaan program pelatihan jurnalistik berkelanjutan yang terstruktur, guna memfasilitasi peningkatan keahlian para jurnalis dalam merespons dinamika era digital.

“Untuk menjadi berkualitas itu perlu pelatihan yang rutin dan pendalaman. Wartawannya tidak ditarget untuk sekadar membuat sekian berita, tetapi didorong membuat berita yang baik dan berkualitas,” ujar Mufti Syarfie saat berbincang dengan pengurus DPN ASANTARA di Padang, Sabtu (15/8/2026).

Mufti Syarfie turut mengkritik tren industri media masa kini yang masih minim menginvestasikan daya pada pengembangan SDM unggul. Budaya kerja yang membebankan target kuantitas berita harian kepada wartawan dinilai mengorbankan kualitas informasi. Padahal, praktik indepth journalism (jurnalistik mendalam) membutuhkan alokasi waktu yang cukup, kedalaman riset, serta standar kompetensi yang tinggi.

Selain mendorong pembenahan internal pers dan komitmen pemerintah, DPN ASANTARA juga menekankan pentingnya edukasi publik dan peningkatan literasi media. Masyarakat diimbau agar tidak bertumpu pada rangkuman instan berbasis AI atau informasi tanpa verifikasi di media sosial. Berita yang akurat, berimbang, dan taat Kode Etik Jurnalistik (KEJ) hanya dapat diperoleh melalui media massa terpercaya. (sal)