SIJUNJUNG – Sebuah video yang memperlihatkan dugaan aksi pemaksaan pemberian uang oleh oknum di salah satu titik buka-tutup jalan di wilayah Sijunjung, Sumatera Barat, ramai dibagikan di media sosial. Video tersebut mulanya dikirim seorang pengguna jalan melalui pesan langsung (DM) ke akun Instagram @infosumbar, sebelum akhirnya diunggah ulang dan menyita perhatian warganet.
Menurut keterangan yang menyertai video, sepanjang perjalanan di Jalan Lintas Sumatera terdapat lebih dari lima titik pemberlakuan sistem buka-tutup karena perbaikan jalan sedang berlangsung. Saat melintas di salah satu titik di Sijunjung, pengendara mengaku sudah tidak memiliki uang pecahan kecil karena telah habis digunakan di titik-titik sebelumnya.
Pengendara disebut telah membunyikan klakson sebagai tanda meminta izin melintas kepada petugas di depan. Namun, diduga ada oknum dari arah belakang yang menghalangi kendaraan sambil membunyikan terompet dan meminta uang. Karena tidak lagi memegang uang pecahan kecil, pengendara memilih tidak memberikan uang tersebut.
Video itu diunggah sebagai bentuk laporan, dengan harapan pihak berwenang dapat menindaklanjuti apabila terbukti terjadi praktik pungutan secara memaksa, demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna Jalan Lintas Sumatera.

Warganet Ramai Bereaksi
Unggahan tersebut memicu respons dari sejumlah warganet di kolom komentar. Akun @eldios_armei menilai kondisi di lapangan menggambarkan lemahnya kontrol pemerintah terhadap praktik yang menyerupai premanisme.
Akun @dionlucaass mengaku pernah mengalami hal serupa saat melintas dari arah sebaliknya beberapa hari sebelumnya. Menurutnya, penolakan memberi uang bukan soal keberatan mengeluarkan uang, melainkan karena praktik tersebut sudah dianggap meresahkan pengguna jalan, dan ia berharap pihak berwenang tidak tinggal diam bila melihat keluhan ini.
Sementara itu, akun @farhann_satr menyinggung langsung akun Instagram @polsek_tanjung_gadang, mempertanyakan penanganan praktik pungutan liar (pungli) yang menurutnya sudah berulang kali terjadi di wilayah kecamatan tersebut.
Di kalangan warganet, kawasan Sijunjung disebut-sebut sudah beberapa kali menjadi sorotan terkait praktik serupa di titik-titik buka-tutup jalan. Beberapa akun turut menceritakan pengalaman pribadi, termasuk klaim bahwa kendaraan sempat tergores atau tiba-tiba mengalami ban bocor usai menolak memberi uang di lokasi tertentu. Klaim-klaim ini beredar di kolom komentar dan media sosial, namun hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwajib mengenai kebenarannya.
Pantauan Lapangan
Dalam pantauan Nusatime.id pada Kamis (9/7/2026), rute dari Kota Padang menuju Simpang Kiliran Jao, Sijunjung, tercatat setidaknya terdapat 5 titik buka-tutup jalan. Titik dengan durasi tunggu terlama berada di Talang Solok, dengan siklus buka-tutup sekitar 30 menit sekali.
Salah satu titik di Sijunjung turut menjadi perhatian karena kondisi badan jalan yang sebenarnya hanya mengalami sedikit penurunan/terban dan masih dapat dilalui dua lajur kendaraan, namun tetap diberlakukan sistem buka-tutup oleh sejumlah pemuda setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari kepolisian setempat, Polsek Tanjung Gadang, maupun instansi terkait seperti Dinas Perhubungan atau Pemerintah Kabupaten Sijunjung terkait video dan aduan warganet ini.



Tinggalkan Balasan