Dalam Bisnis, Nekat yang Terukur Sering Lebih Berharga daripada Rencana Sempurna

Rubrik Entrepreneurship – ALINIA MEDIA

Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med
CEO ALINIA GROUP

Banyak orang ingin sukses.

Ingin punya bisnis besar. Ingin kaya. Ingin hidup bebas. Ingin memiliki banyak aset. Ingin menciptakan lapangan pekerjaan. Ingin menikmati kehidupan yang lebih baik.

Tetapi sayangnya, kebanyakan hanya berhenti pada satu kata:

INGIN!

Ketika kesempatan datang, mereka berpikir.

Ketika peluang muncul, mereka berdiskusi.

Ketika ide bisnis ditemukan, mereka membuat perencanaan.

Sebulan kemudian masih berpikir.

Enam bulan kemudian masih melakukan analisis.

Setahun kemudian?

Bisnisnya sudah dijalankan orang lain!

Inilah penyakit yang banyak menyerang orang-orang yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk sukses:

KEBANYAKAN MIKIR, KURANG ACTION!

Mereka ingin semuanya sempurna.

Modal harus cukup.

Situasi harus aman.

Pasar harus jelas.

Tim harus lengkap.

Keluarga harus mendukung.

Teman harus setuju.

Bahkan kalau perlu, mereka ingin Tuhan mengirimkan surat resmi dari langit yang mengatakan:

“Silakan mulai bisnis Anda sekarang. Dijamin sukses!”

Masalahnya, dunia bisnis tidak bekerja seperti itu.

Tidak pernah ada waktu yang benar-benar sempurna.

Tidak pernah ada bisnis tanpa risiko.

Dan tidak pernah ada entrepreneur sukses yang mengetahui seluruh jawaban sebelum memulai.

Karena itu, dalam dunia entrepreneurship terkadang kita memang membutuhkan satu modal penting:

NEKAT!

NEKAT BUKAN BERARTI BODOH

Jangan salah memahami kata nekat.

Nekat bukan berarti menjual rumah, menjual mobil, menghabiskan seluruh tabungan, lalu membuka bisnis yang sama sekali tidak kita pahami.

Itu bukan nekat.

Itu namanya ceroboh.

Nekat dalam entrepreneurship adalah keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian setelah melakukan perhitungan yang wajar.

Data boleh belum lengkap.

Modal boleh belum besar.

Tim boleh belum sempurna.

Tetapi ketika peluang sudah terlihat, keputusan harus diambil.

Karena dalam bisnis berlaku satu hukum sederhana:

Siapa cepat, dia belajar lebih dahulu.

Dan siapa belajar lebih dahulu, memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan.

ORANG SUKSES TIDAK MENUNGGU ORANG LAIN PERCAYA

Kesalahan banyak orang adalah terlalu sibuk mencari pengakuan.

Mereka bertanya kepada teman.

“Menurut kamu bisnis saya bagus tidak?”

Bertanya kepada keluarga.

“Menurut kalian saya bisa sukses tidak?”

Bertanya kepada orang lain.

“Kalau saya mulai sekarang, kira-kira bagaimana?”

Masalahnya, semakin banyak orang yang ditanya, semakin banyak pula ketakutan yang masuk ke kepala.

Entrepreneur sejati memahami satu hal:

Anda harus percaya kepada diri sendiri sebelum orang lain mempercayai Anda.

Orang lain biasanya baru datang setelah bisnis berhasil.

Setelah perusahaan berkembang.

Setelah keuntungan mulai terlihat.

Setelah nama mulai dikenal.

Ketika Anda masih berjuang?

Belum tentu ada yang peduli.

Karena itu, berhentilah menunggu tepuk tangan.

Mulai saja!

KALAU TAKUT GAGAL, JANGAN BERMIMPI JADI PENGUSAHA

Kalimat ini mungkin terdengar keras.

Tetapi begitulah kenyataannya.

Bisnis adalah dunia ketidakpastian.

Hari ini untung.

Besok rugi.

Hari ini mendapatkan pelanggan besar.

Besok kehilangan pasar.

Hari ini karyawan datang.

Besok karyawan terbaik mengundurkan diri.

Hari ini dipuji.

Besok dikritik.

Kalau mental Anda hanya siap menerima kemenangan, entrepreneurship bukan tempat yang nyaman.

Seorang entrepreneur harus berani kalah.

Berani rugi.

Berani salah mengambil keputusan.

Berani ditertawakan.

Dan yang paling penting:

Berani bangkit kembali!

Karena kegagalan bukanlah akhir perjalanan.

Kegagalan adalah biaya kuliah di universitas kehidupan.

Dan biasanya, biaya kuliah seorang entrepreneur memang mahal.

Tetapi pelajarannya juga luar biasa.

PELUANG BESAR SERING BERSEMBUNYI DI TEMPAT YANG DITAKUTI ORANG

Ketika semua orang mengatakan sebuah bisnis terlalu berisiko, seorang entrepreneur bertanya:

“Di mana peluangnya?”

Ketika orang lain melihat masalah, entrepreneur melihat kebutuhan pasar.

Ketika orang lain melihat krisis, entrepreneur melihat perubahan perilaku konsumen.

Ketika orang lain memilih mundur, entrepreneur mulai melakukan perhitungan.

Inilah perbedaan mendasar antara penonton dan pemain.

Penonton sibuk berkomentar.

Pemain sibuk mengambil keputusan.

Dan sejarah bisnis tidak pernah ditulis oleh penonton.

Sejarah ditulis oleh mereka yang berani masuk ke arena.

OVERTHINKING ADALAH PEMBUNUH PELUANG

Berpikir itu penting.

Analisis itu perlu.

Perencanaan itu wajib.

Tetapi terlalu banyak berpikir bisa menjadi penyakit.

Namanya:

OVERTHINKING!

Gejalanya mudah dikenali.

Punya ide, tidak mulai.

Punya modal, masih ragu.

Ada peluang, takut rugi.

Sudah membuat rencana, minta pendapat ke mana-mana.

Akhirnya?

Tidak melakukan apa-apa!

Sementara itu, orang lain yang mungkin modalnya lebih kecil, pendidikannya lebih rendah, dan pengalamannya lebih sedikit justru sudah mulai berjalan.

Enam bulan kemudian mereka belajar.

Setahun kemudian mereka berkembang.

Lima tahun kemudian mereka sukses.

Sedangkan si pemikir?

Masih sibuk mengatakan:

“Sebenarnya dulu saya juga punya ide seperti itu.”

Maaf.

Dalam bisnis, ide tidak dibayar.

Eksekusilah yang menghasilkan uang!

ENTREPRENEUR HARUS PUNYA MENTAL TAHAN BANTING

Bisnis tidak membutuhkan manusia yang mudah baper.

Dikritik, berhenti.

Rugi, menyerah.

Ditinggalkan karyawan, putus asa.

Ditolak bank, marah.

Tidak didukung keluarga, kehilangan semangat.

Kalau sedikit-sedikit menyerah, bagaimana mungkin membangun perusahaan besar?

Entrepreneur harus memiliki mental tahan banting.

Jatuh?

Bangkit.

Rugi?

Evaluasi.

Salah strategi?

Perbaiki.

Kehilangan peluang?

Cari peluang baru.

Gagal?

Mulai lagi.

Sederhana.

Karena entrepreneur sejati memahami:

Yang paling berbahaya bukanlah kegagalan, tetapi kehilangan keberanian untuk mencoba kembali.

JANGAN TERLALU CINTA PADA ZONA AMAN

Banyak orang ingin sukses, tetapi tidak mau kehilangan kenyamanan.

Ingin kaya, tetapi takut mengambil risiko.

Ingin punya bisnis, tetapi takut meninggalkan zona aman.

Ingin merdeka secara finansial, tetapi semua keputusan hidupnya dikendalikan oleh ketakutan.

Ini kontradiksi.

Kesuksesan besar hampir selalu meminta harga.

Waktu.

Tenaga.

Pikiran.

Uang.

Keberanian.

Bahkan terkadang harga diri.

Anda mungkin ditertawakan.

Diremehkan.

Dianggap gila.

Tetapi percayalah, orang-orang yang hari ini menertawakan Anda bisa menjadi orang pertama yang mengatakan:

“Saya sebenarnya dari dulu sudah yakin dia akan sukses.”

Begitulah dunia.

Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari pengakuan.

Sibuklah membangun keberhasilan!

MENJADI PENGUSAHA BERARTI MENJADI MANUSIA MERDEKA

Bagi saya, entrepreneurship bukan hanya persoalan mencari uang.

Entrepreneurship adalah jalan menuju kemerdekaan.

Merdeka berpikir.

Merdeka mengambil keputusan.

Merdeka menentukan masa depan.

Merdeka menciptakan peluang.

Dan yang lebih penting:

Merdeka memberikan manfaat kepada orang lain melalui lapangan pekerjaan yang kita ciptakan.

Tetapi kemerdekaan tidak pernah lahir dari ketakutan.

Kemerdekaan lahir dari keberanian.

Keberanian memulai.

Keberanian mengambil risiko.

Keberanian gagal.

Keberanian bangkit.

Dan keberanian melanjutkan perjalanan ketika orang lain memilih berhenti.

JADI, SAMPAI KAPAN MAU MENUNGGU?

Menunggu modal cukup?

Menunggu ekonomi membaik?

Menunggu pemerintah membuat kebijakan yang sempurna?

Menunggu keluarga mendukung?

Menunggu teman percaya?

Menunggu tidak ada risiko?

Kalau semua itu yang Anda tunggu, mungkin Anda akan menunggu selamanya.

Karena waktu terbaik tidak pernah benar-benar datang.

Waktu terbaik diciptakan oleh mereka yang berani mengambil keputusan.

Mulailah dari apa yang Anda punya.

Mulailah dari kemampuan yang ada.

Mulailah dari peluang kecil.

Mulailah meskipun belum sempurna.

Belajar sambil berjalan.

Perbaiki sambil berkembang.

Dan jangan takut gagal.

Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat siapa yang paling banyak membuat rencana.

Dunia akan mengingat siapa yang berani mengeksekusinya.

Jangan kebanyakan mikir!

Jangan terlalu lama menghitung!

Jangan menunggu semuanya sempurna!

MULAI. ACTION. GAGAL. BELAJAR. BANGKIT. MENANG!

Sebab hampir semua orang sukses pernah dianggap gila.

Hampir semua entrepreneur besar pernah mengalami kegagalan.

Dan hampir semua keberhasilan besar dimulai dari satu keputusan yang sama:

BERANI NEKAT UNTUK MEMULAI!