JAKARTA – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah melakukan transformasi besar di sektor pendidikan. Bukan sekadar membangun ruang kelas baru, pemerintah menghadirkan sejumlah model sekolah dan perguruan tinggi dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai dari sekolah bagi anak miskin, sekolah khusus siswa berprestasi, hingga kampus yang diproyeksikan mencetak calon pemimpin negara dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Langkah tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Asta Cita keempat yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen itu ditegaskan langsung Presiden Prabowo saat peringatan Hari Guru Nasional 2025. Menurutnya, kemajuan sebuah negara tidak mungkin dicapai tanpa keberanian menggelontorkan investasi besar di bidang pendidikan.
“Kebangkitan dan keberhasilan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Karena itu, setiap negara yang berhasil pasti berani melakukan investasi besar-besaran di sektor pendidikan. Dan elit politik Indonesia telah mengambil keputusan untuk melakukan investasi besar-besaran di bidang pendidikan,” ujar Presiden Prabowo, dikutip dari situs resmi Presiden, Jumat (28/11/2025).
Pernyataan tersebut menjadi penegasan arah kebijakan pemerintah yang kini menghadirkan sedikitnya lima model pendidikan baru dengan karakter dan sasaran yang berbeda dari sekolah maupun perguruan tinggi yang telah ada.

Sekolah Rakyat, Jalur Pendidikan bagi Keluarga Miskin
Program pertama adalah Sekolah Rakyat yang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi desil 1 dan 2.
Berbeda dengan sekolah umum, Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama sehingga seluruh kebutuhan pendidikan peserta didik ditanggung pemerintah.
Program ini mulai dirintis pada 14 Juli 2025 setelah resmi dibentuk pada 27 Maret 2025, kemudian diluncurkan secara nasional oleh Presiden Prabowo pada 12 Januari 2026.
Kementerian Sosial mencatat jumlah peserta didik Sekolah Rakyat kini mencapai sekitar 45.000 siswa setelah pemerintah menambah kuota sebanyak 30.000 peserta didik pada tahun ajaran baru.
Program tersebut ditujukan untuk menjangkau anak-anak dari keluarga rentan yang tidak sekolah, putus sekolah maupun berpotensi putus sekolah.
“Tahun lalu ada lebih dari 15 ribu siswa Sekolah Rakyat. Tahun ini kita menambah alokasi menjadi 30 ribu siswa. Sampai tahun ini diperkirakan ada sekitar 45 ribu siswa Sekolah Rakyat tingkat SD, SMP dan SMA,” demikian keterangan yang dikutip dari Antara, Kamis (23/7/2026).
Hingga kini, pembangunan telah berjalan di sekitar 100 titik dengan kapasitas masing-masing sekolah mampu menampung lebih dari 2.000 hingga sekitar 2.500 siswa.
SMA Unggul Garuda, Jalur Siswa Berprestasi
Jika Sekolah Rakyat menyasar keluarga kurang mampu, SMA Unggul Garuda justru dirancang khusus untuk menjaring siswa berprestasi.
Program di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi itu berorientasi mencetak talenta sains dan teknologi (STEM) yang mampu bersaing hingga ke perguruan tinggi terbaik dunia.
Sekolah ini menggunakan sistem asrama dan menerapkan kurikulum internasional.
Program SMA Unggul Garuda terdiri atas dua skema, yakni SMA Unggul Garuda Baru dan SMA Unggul Garuda Transformasi. Saat ini tercatat telah ada 30 sekolah yang menjadi bagian dari program tersebut.
SMA Terintegrasi Nasional, Gratis tetapi Tanpa Asrama
Pemerintah juga meluncurkan SMA Terintegrasi Nasional (SNT).
Berbeda dengan Sekolah Rakyat maupun SMA Unggul Garuda, sekolah ini tidak menggunakan konsep asrama dan proses belajar berlangsung seperti sekolah reguler.
Mengutip laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Jumat (31/7/2026), sekolah ini juga tidak memungut biaya pendidikan.
Sasaran utamanya adalah siswa SMP dan SMA berprestasi dari seluruh kelompok masyarakat secara inklusif tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi.
Kampus Calon Pemimpin BUMN
Transformasi pendidikan era Prabowo juga menyasar jenjang perguruan tinggi.
Badan Pengelola BUMN bersama Danantara Indonesia tengah menyiapkan Danantara Corporate University sebagai pusat pengembangan calon pemimpin perusahaan negara.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan kampus tersebut disiapkan untuk melahirkan SDM yang mampu membawa BUMN bersaing di tingkat global.
“Kami ingin menyiapkan talenta unggul yang berwawasan global dan mampu membawa BUMN Indonesia menjadi pemain kelas dunia,” ujar Dony Oskaria, dikutip dari Antara, Rabu (10/7/2026).
Universitas Republik Indonesia Cetak Pemimpin Negara
Selain Danantara Corporate University, pemerintah juga membentuk Universitas Republik Indonesia (URI).
Presiden Prabowo baru-baru ini melantik Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur URI.
Universitas tersebut akan berfokus pada penguatan pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) sebagai bagian dari strategi pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan konsep URI mengacu pada model pendidikan pemerintahan di Prancis, yakni École nationale d’administration (ENA) yang kini menjadi Institut national du service public (INSP).
Menurutnya, lembaga tersebut selama ini menjadi tempat pendidikan bagi calon pejabat pemerintahan, pimpinan BUMN, hingga kepala daerah.
Pemerintah berharap URI dapat menjadi tempat lahirnya calon pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga wawasan kebangsaan yang kuat untuk mengawal jalannya pemerintahan dan mengemban amanah negara.



Tinggalkan Balasan