Rangkuman Utama
  • Mantan Direktur Utama PT Semen Padang, almarhum Joni Marsinih, berperan penting meresmikan pendirian Semen Padang FC pada 1 November 1980 demi membawa klub lokal menuju kompetisi profesional Galatama.
  • Joni Marsinih merintis standar kesejahteraan atlet yang revolusioner dengan mengangkat para pemain Semen Padang FC menjadi karyawan tetap perusahaan secara bertahap mulai tahun 1983.
  • Pendirian Semen Padang FC menjadi wujud sinergi antara Azwar Anas yang membangun fondasi awal klub dan Joni Marsinih yang mengarsiteki legalitas, profesionalisasi, serta jaminan masa depan pemain.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh: Faisal Budiman
Wartawan Utama dan Pemegang Number One Press Card

Bagi masyarakat Sumatera Barat dan pencinta sepak bola tanah air, jersi merah Semen Padang FC—atau yang karib dijuluki Kabau Sirah—bukan sekadar seragam klub liga. Ia adalah simbol harga diri, identitas, dan sejarah panjang profesionalisme sepak bola Ranah Minang. Namun, jika kita menggali lebih dalam sejarah pembentukannya, ada kepingan takdir dan keberanian manajemen yang jarang disorot media, yakni peran vital almarhum Drs. Joni Marsinih, SE.

 

83a747f9 ab6e 4f01 825a aa34ac57bf54

Nama mantan Direktur Utama PT Semen Padang dan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) ini mungkin kalah nyaring dibanding nama mantan Gubernur Sumbar Azwar Anas yang kerap diposisikan sebagai figur utama pendiri klub. Padahal, fakta sejarah mencatat dengan rinci: di tangan Joni Marsinih-lah visi pembentukan klub sepak bola pabrik bertransformasi menjadi sebuah industri olahraga yang profesional dan mandiri.

Dari Porsep Menuju Gelanggang Nasional

Langkah awal pendirian Semen Padang FC sebenarnya bermula dari wacana Galatama yang dicanangkan PSSI pada akhir era 1970-an untuk mendorong sepak bola sebagai profesi. Permintaan masyarakat Sumbar akan hadirnya kesebelasan tangguh direspons oleh Wali Kota Padang saat itu, Hasan Basri Durin, dan Sjahrul Ujud (Komda PSSI Sumbar), yang meminta PT Semen Padang membentuk tim Galatama.

a9014e1f 4c9a 46d0 a31a 48cd6d748f46

Modal dasarnya sudah ada, yaitu Kesebelasan Persatuan Olahraga Semen Padang (Porsep)—wadah olahraga internal yang digagas oleh Azwar Anas semasa menjabat Dirut. Namun, keputusan membawa wadah internal perusahaan ke kompetisi kasta atas nasional tentu bukan perkara sepele. Langkah ini sempat memicu perdebatan sengit di internal manajemen terkait beban anggaran dan relevansinya dengan fokus bisnis perusahaan semen.

Di sinilah letak keberanian seorang Joni Marsinih. Berbekal visi bisnis jangka panjang dan manajemen keuangan yang matang, ia tidak bergeming. Setelah mengantongi izin dari Dirjen Kimia Dasar Kementerian Perindustrian saat itu, Dr. Ir. Hartarto Sastrosoenarto, Joni resmi menandatangani Surat Keputusan (SK) pendirian klub pada 1 November 1980.

Hasilnya langsung terbukti di lapangan. Mengarungi Divisi II Galatama, tim yang dihuni talenta-talenta lokal berhasil menyabet gelar juara pada tahun 1982 sekaligus merebut tiket promosi ke Divisi Utama. Keberanian Joni mengeksekusi pendirian klub menjadi batu pijakan pertama hadirnya klub profesional pertama di Sumatera Barat.

Standar Kesejahteraan dan Legacy Abadi

Satu hal paling revolusioner yang diwariskan Joni Marsinih adalah peletakan standar kesejahteraan atlet yang sangat maju pada zamannya. Atas usulan manajer tim Suhaimi Irwan, Joni menyetujui pengangkatan para pemain Semen Padang FC menjadi karyawan tetap PT Semen Padang secara bertahap mulai tahun 1983.

Kebijakan ini memberikan jaminan masa depan yang pasti bagi para pesepak bola—hal yang bahkan masih menjadi barang langka di industri sepak bola nasional hari ini. Jaminan kesejahteraan inilah yang membentuk loyalitas tanpa batas di lapangan; para pemain bertanding tidak hanya demi meraih kemenangan, tetapi juga membela institusi tempat mereka menggantungkan hidup.

Magis kepemimpinan Joni tak berhenti di Padang. Saat dipindahtugaskan memimpin PT Pusri di Palembang pada 1983, ia mereplikasi rumus serupa dengan mendirikan PS Pusri Galatama dan merekrut talenta-talenta papan atas nasional. Tak heran jika manajemen PT Pusri mengabadikan namanya sebagai nama jalan utama di kompleks perusahaan sebagai bentuk penghormatan atas integritas dan dedikasinya.

Harmoni Dua Tokoh Bangsa

Membaca kembali rekam jejak pendirian Semen Padang FC tidak bertujuan untuk meniadakan peran tokoh lain. Azwar Anas dan Joni Marsinih adalah dua figur yang saling melengkapi. Jika Azwar Anas sukses membangun kultur, wadah, dan fondasi awal melalui Porsep, maka Joni Marsinih adalah eksekutor legalitas, arsitek profesionalisasi, dan penjamin kesejahteraan para pemainnya.

Menziarahi kembali sejarah pendirian Semen Padang FC memberi pelajaran berharga bagi tata kelola klub modern saat ini: bahwa kejayaan sebuah klub tidak hanya dibangun dari kemeriahan di tribun penonton, melainkan dari keberanian kepemimpinan, kepastian hukum, dan penghargaan yang tinggi terhadap harkat para atletnya. (**)