PADANG, NUSATIME.ID — Suasana media sosial pendukung sepak bola Sumatera Barat diwarnai dinamika intens antara kelompok suporter dan manajemen klub berjuluk Kabau Sirah, Semen Padang FC. Ketegangan bermula dari unggahan akun Instagram @spartacks.jakarta yang melayangkan kritik terbuka terhadap performa dan manajemen klub menyusul catatan hasil pertandingan tim pada musim ini.
Dalam unggahannya, @spartacks.jakarta menyampaikan apresiasi kepada para pemain yang telah berjuang di lapangan, namun secara tegas menuntut jajaran manajemen yang dinilai kurang optimal untuk mundur dari jabatannya.
“Terima kasih untuk semua pemain yang sudah berjuang hingga saat ini. Untuk manajemen, sadar diri, kalau tidak kompeten di bidang ini, silakan out,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu dengan cepat menarik perhatian publik sepak bola nasional maupun lokal, serta memicu perdebatan di ruang digital.
Puncak diskursus di media sosial tersebut mendapat tanggapan langsung dari penasihat/manajemen klub Semen Padang FC, Andre Rosiade (@andre_rosiade). Melalui kolom komentar, ia memaparkan besarnya tantangan finansial serta beban operasional klub sepak bola profesional, termasuk estimasi kebutuhan dana klub yang mencapai angka puluhan miliar rupiah serta kewajiban menyelesaikan beban finansial dari periode sebelumnya.

“Cubo angku yang urus klub iko bos, jan gadang rarau ajo. Angku carian pitih 70 M untuk biaya klub iko lalu cari pitih 25 M untuk bayia hutang masa lalu,” tulis Andre dalam bahasa Minang, yang menyuarakan tantangan pengelolaan dana operasional tim sebesar Rp70 miliar serta penyelesaian utang masa lalu sebesar Rp25 miliar.
Mengenai anggapan bahwa tata kelola klub berjalan kurang profesional, Andre meminta publik dan suporter untuk melakukan konfirmasi objektif langsung kepada jajaran pelatih, tim medis, hingga staf perlengkapan (kitman) yang bertugas, serta membandingkannya dengan manajemen periode sebelumnya.
“Amatiran? Angku tanyok ka Suhatman, Hengki, dokter tim, serta 3 urang kitman. Baa manajemen iko bakarjo. Bandingkan samo yang lamo-lamo. Bia objektif,” lanjutnya.
Andre menegaskan bahwa manajemen tidak anti terhadap kritik maupun masukan konstruktif. Namun, ia menyayangkan kritik yang kerap disampaikan secara terus-menerus di media sosial tanpa memanfaatkan forum tatap muka resmi yang telah disediakan. Pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi suporter untuk berdialog langsung di Mess pemain.
“Silakan datang ke Mess tanyok langsung. Jan hanyo gadang rarau. Kritik silakan tapi objektif bos. Di saat pertemuan suporter samo manajemen indak datang. Silahkan dialog langsung sampaikan kritik angku. Bia kami hadapi,” tegasnya.
Perdebatan di ruang digital tersebut turut memantik gelombang reaksi dan pandangan beragam dari warganet, suporter, serta akun-akun komunitas di kolom komentar.
Berdasarkan pantauan pada unggahan interaksi media sosial tersebut, diskursus berkembang ke berbagai arah. Sejumlah warganet menanggapi secara kritis angka anggaran operasional yang kerap disebutkan, dengan komentar bernada satir seperti “Baper, stek-stek 70M…” (tersinggung ya, sedikit-sedikit 70 miliar…) dari akun @reno_syafrawanto, yang mencerminkan kejenuhan sebagian suporter terhadap narasi finansial yang terus diulang di tengah performa tim. Akun @galigalisanang420_ menyoroti aspek komunikasi antara manajemen dan suporter dengan menyatakan, “tidak anti kritik tapi tribune kami ditutuh. jangan sikit-sikit 70 M nya aja yang diumbar, malu awak,” yang menyuarakan aspirasi terkait akses suporter ke stadion.
Sementara itu, sebagian warganet lainnya mengimbau agar kedua belah pihak tetap mendinginkan suasana, mengedepankan objektivitas, serta menyerukan agar penyelesaian masalah dilakukan dengan kepala dingin demi kebaikan bersama dan prestasi Semen Padang FC ke depan.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat dan urang awak terhadap marwah kebanggaan Sumatera Barat. Di satu sisi, suporter dan pencinta klub menuntut transparansi, perbaikan prestasi, serta profesionalisme yang lebih baik. Di sisi lain, pihak manajemen berupaya menjaga keutuhan tim di tengah tingginya beban finansial kompetisi sepak bola kasta tertinggi nasional.
Dialog yang konstruktif dan berimbang diharapkan mampu menjadi jembatan bagi kemajuan Semen Padang FC ke depan. (**)



Tinggalkan Balasan