JAKARTA – Badan Gizi Nasional menyisir ulang data 62,7 juta penerima manfaat Makan Bergizi Gratis. Pemeriksaan dilakukan setelah ditemukan indikasi satu sekolah dicatat sebagai penerima layanan dari dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan data penerima harus diverifikasi sebelum program dilanjutkan dalam skala lebih besar.
BGN ingin memastikan jumlah penerima sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Misalnya satu sekolah dilayani dua SPPG. Kami lihat ada indikasi bisa jadi dobel, jumlahnya jadi dobel. Itu yang satu per satu kami sisir,” kata Agustina di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7).
Menurut Agustina , penentuan penerima MBG sebelumnya lebih banyak mengikuti lokasi SPPG. Mitra yang memiliki titik layanan mencari sekolah dan calon penerima di sekitarnya tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan tingkat stunting atau kebutuhan gizi daerah.

Pola itu bahkan membuat sejumlah SPPG berebut sekolah ketika jumlah titik layanan dalam satu wilayah terlalu banyak.
“Pokoknya SPPG-nya punya titik di daerah sini, kumpulkan yang di situ. Ada SD, ada ini, tidak peduli dengan angka stunting,” ujarnya.
BGN kini menyiapkan basis data penerima manfaat dan SPPG. Pemeriksaan juga akan menggunakan data lokasi untuk memastikan dapur benar-benar beroperasi dan melayani sasaran yang tercatat.
Agustina mengatakan pembenahan pertama ialah memastikan berapa jumlah penerima yang valid. Setelah itu, BGN akan menentukan kelompok dan daerah yang harus didahulukan.
“Yang pertama kami perbaiki, 63 juta itu benar atau tidak. Kalau itu berapa yang benar, lalu berapa yang seharusnya kami berikan,” katanya.(**)



Tinggalkan Balasan