- Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan mengenai penampilan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri acara Akad Massal Perumahan Subsidi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
- Momen interaksi tersebut terjadi di hadapan para pejabat daerah yang hadir, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
- Peristiwa ini menjadi sorotan publik karena berlangsung sehari setelah rilis survei SMRC yang mencatat elektabilitas Dedi Mulyadi mengungguli Prabowo Subianto dalam simulasi calon presiden.
BATANG – Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), saat menghadiri acara Akad Massal Perumahan Subsidi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Percakapan singkat yang terjadi di hadapan para kepala daerah itu sontak menyita perhatian, terlebih berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap elektabilitas Dedi Mulyadi dalam survei politik terbaru.
Momen tersebut bermula ketika Presiden Prabowo menyapa satu per satu gubernur, bupati, dan wali kota yang hadir dalam acara tersebut.
Ia terlebih dahulu menyapa Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah.
“Gubernur Jawa Tengah Komisaris Jenderal Polisi Purnawirawan Ahmad Luthfi,” ujar Prabowo.
Presiden kemudian menyampaikan apresiasi kepada jajaran Forkopimda yang hadir sambil melontarkan guyonan mengenai kekompakan unsur penegak hukum.

“Beserta Forkopimda Jawa Tengah, Pangdam, Kapolda, Kepala Kejaksaan, Kajati, terima kasih atas kehadirannya. Nah, itu benar tuh, Kapolda dan Kejaksaan duduk dekat-dekatan. Jadi enak, sejuk, semua senang,” katanya yang disambut suasana hangat.
Saat giliran menyapa Gubernur Jawa Barat, perhatian Prabowo justru tertuju pada penampilan Dedi Mulyadi yang mengenakan busana serba putih.
“Gubernur Jawa Barat yang saya hormati, Saudara KDM,” ucap Prabowo.
Dedi Mulyadi berdiri sambil merangkapkan kedua tangan dengan gestur namaste dan tersenyum ke arah Presiden. Namun ketika hendak kembali duduk, Prabowo kembali memanggilnya dan melontarkan candaan mengenai penampilannya.
“Sepatunya harus putih juga tuh. Tali sepatunya warnanya apa, merah?” canda Prabowo.
Sambil tersenyum, Dedi langsung menjawab singkat.
“Cokelat,” jawab Dedi Mulyadi.
Candaan itu mengundang senyum para tamu yang hadir sebelum Presiden melanjutkan sambutannya dengan menyapa Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta para kepala daerah lainnya.
“Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur, Saudari Khofifah Indar Parawansa, para bupati dan wali kota yang hadir semuanya,” kata Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyebutkan kehadiran 18 bupati dan wali kota yang mengikuti acara Akad Massal Perumahan Subsidi.
Muncul di Tengah Ramainya Survei Elektabilitas
Kelakar Presiden kepada Dedi Mulyadi menjadi perhatian publik karena terjadi hanya sehari setelah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei elektabilitas calon presiden.
Dalam survei bertajuk “Elektabilitas Calon-calon Presiden” yang dipublikasikan pada Rabu (29/7/2026), Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dalam simulasi semi-terbuka terhadap 20 nama calon presiden.
Dedi memperoleh 35,0 persen dukungan responden, mengungguli Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan 14,5 persen. Sementara itu, Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen. Sebanyak 12,8 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan.
Tak hanya itu, dalam simulasi head-to-head, SMRC mencatat Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 59,0 persen, sedangkan Prabowo Subianto meraih 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden lainnya belum menentukan pilihan.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan hasil simulasi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi Prabowo apabila pemilihan presiden digelar saat ini.
“Bila pemilihan presiden dilakukan sekarang dan Prabowo maju sebagai calon, kemungkinan dia tidak akan terpilih kembali,” kata Deni dalam pemaparan hasil survei.
Meski demikian, SMRC menegaskan bahwa hasil survei tersebut merupakan potret opini publik pada saat pengumpulan data, bukan prediksi pasti hasil pemilihan presiden mendatang. Preferensi pemilih, menurut SMRC, masih dapat berubah mengikuti dinamika politik, kondisi ekonomi, maupun penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjelang Pemilu.
Survei dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 16,2 persen lainnya diwawancarai secara tatap muka karena tidak memiliki akses telepon. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.(fix)



Tinggalkan Balasan