- Keputusan Semen Padang FC yang langsung menghadapi tim-tim papan atas pada laga uji coba pra-musim menuai kritik keras dari kalangan pengamat dan praktisi sepak bola.
- Mantan pemain nasional Andre Syarifudin Kesak menilai agenda tersebut menyalahi prinsip alur uji coba berjenjang (pyramid testing) serta berisiko memicu cedera dini, merusak mentalitas pemain, dan mengganggu evaluasi taktik.
- Meski dinilai berisiko merugikan tim, manajemen dan pelatih Kabau Sirah tetap melanjutkan agenda uji coba berat tersebut sebagai ajang pembuktian kesiapan fisik dan taktik skuat.
PADANG — Langkah Semen Padang FC yang langsung menjajal tim-tim papan atas pada laga uji coba pra-musim menuai kritik pedas dari kalangan pengamat dan praktisi sepak bola Sumatra Barat. Pilihan manajemen yang mematok tim kuat seperti Bhayangkara FC dan Borneo FC di awal agenda Training Center (TC) Yogyakarta dinilai bertentangan dengan prinsip pembinaan fisik dan taktik.
Kritik keras salah satunya datang dari mantan pemain nasional U-20, Andre Syarifudin Kesak. Eks pilar Persiwa Wamena tersebut menilai agenda uji coba yang disusun manajemen dan tim pelatih Kabau Sirah sebagai kekeliruan fatal yang berpotensi merugikan skuat di awal musim.
“Melakukan uji coba langsung melawan tim yang sangat kuat dapat merusak mental pemain, memicu cedera dini akibat perbedaan intensitas fisik, dan menghambat proses evaluasi taktik secara bertahap,” tegas Andre Kesak di Padang, Minggu (9/8/2026).
Kesak memaparkan tiga ancaman nyata di balik alur uji coba yang tergesa-gesa ini, mulai dari cedera. Di mana kondisi fisik pemain yang belum berada pada taraf peak condition dipaksa mengimbangi tempo tinggi. Perubahan beban kerja secara mendadak berpotensi memicu cedera otot dan sendi.
Yang lebih parah guncangan kepercayaan diri, dengan hasil buruk atau tekanan mendominasi dari lawan kuat di fase awal dapat menggerus mentalitas pemain, terutama pilar baru yang belum padu secara chemistry.

“Tim pelatih juga bakal kesulitan menganalisis skema permainan dasar karena skuat lebih banyak bertahan dan berada di bawah tekanan lawan,” terangnya.
Dijelaskan Kesak, secara teoritis, periodisasi latihan sepak bola modern mengandalkan alur uji coba berjenjang (pyramid testing). Pendekatan ini bertujuan membentuk ketahanan fisik dan kematangan taktik secara berkesinambungan.
“Biasanya ujicoba diawali dengan menghadapi tim berlevel di bawah untuk mengasah komunikasi, memantapkan skema taktik dasar, serta membangun kepercayaan diri tanpa tekanan tinggi,” terangnya.
Setelah dilevel ini, jelas Andre, dinaikkan ke level sepadan guna meningkatkan kebugaran fisik, tempo permainan, dan kedisiplinan posisi secara bertahap.
“Setelah dengan tim selevel baru dilanjutkan melawan tim terkuat sebagai tolok ukur kesiapan mental bertanding menjelang kick-off kompetisi resmi. Ini biasa dilakukan di penghujung pra-musim,” terangnya.
Meskipun menuai nada skeptis, pilihan manajemen dan jajaran pelatih Semen Padang FC untuk mengambil jalan terjal tetap berjalan. Laga kontra Borneo FC di Yogyakarta kini bukan sekadar ajang pemanasan biasa, melainkan cermin besar untuk membuktikan apakah fondasi fisik dan taktik Kabau Sirah sudah cukup tangguh menepis segala kekhawatiran publik. (sal)



Tinggalkan Balasan