NUSATIME.ID – Kualitas udara di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat (Sumbar) mulai menunjukkan perbaikan setelah hampir sebulan sebelumnya terdampak kabut asap dengan tingkat pencemaran yang berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada Rabu (28/10/2026) pukul 07.00 WIB, delapan wilayah yang dipantau tercatat berada dalam kategori kualitas udara sedang. Kondisi ini menjadi perkembangan positif setelah masyarakat sebelumnya menghadapi paparan polusi udara akibat kabut asap.
Meski demikian, konsentrasi partikel halus PM2.5 di sejumlah daerah masih perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara.
Di Kota Padang, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI⁺) US tercatat sebesar 82, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 25,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut menjadi indeks tertinggi di antara delapan wilayah yang dipantau.
Sementara itu, Lubukalung, Kabupaten Padang Pariaman, mencatat AQI⁺ US sebesar 58 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 12,8 µg/m³. Data kualitas udara di wilayah ini bersumber dari pemodelan berbasis satelit.

Di Kota Padang Panjang, indeks kualitas udara berada pada angka 66 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 17,1 µg/m³. Kondisi yang relatif serupa juga terlihat di Kota Bukittinggi, dengan AQI⁺ US sebesar 65 dan konsentrasi PM2.5 mencapai 16,8 µg/m³.
Berikutnya, Kota Payakumbuh mencatat indeks kualitas udara sebesar 67 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 17,6 µg/m³.
Di Arosuka, Kabupaten Solok, AQI⁺ US berada pada angka 61 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 14,7 µg/m³. Adapun Kota Solok mencatat indeks 66 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 17 µg/m³.
Sementara itu, Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, mencatat AQI⁺ US sebesar 73 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 21 µg/m³.
Padang Catat Indeks Tertinggi
Dari delapan wilayah tersebut, Kota Padang memiliki indeks kualitas udara tertinggi, yakni 82. Sebaliknya, Lubukalung mencatat indeks terendah sebesar 58.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi pencemaran udara belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah Sumatera Barat. Meski seluruh lokasi pemantauan berada pada kategori sedang, tingkat konsentrasi PM2.5 masih bervariasi.
Partikel PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.
Kategori sedang pada indeks AQI⁺ US secara umum menunjukkan bahwa kualitas udara masih dapat diterima, tetapi sebagian kecil orang yang sangat sensitif terhadap polusi dapat mengalami dampak kesehatan.
Warga Tetap Diimbau Memperhatikan Kondisi Udara
Membaiknya kualitas udara di sejumlah wilayah Sumbar menjadi perkembangan yang patut disyukuri setelah kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat selama beberapa pekan terakhir.
Namun, kondisi tersebut belum berarti ancaman pencemaran udara telah sepenuhnya berakhir. Perubahan cuaca, aktivitas pembakaran, serta perkembangan kebakaran hutan dan lahan dapat memengaruhi kualitas udara di suatu wilayah.
Masyarakat, terutama kelompok rentan, tetap perlu memperhatikan informasi kualitas udara terbaru dan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan apabila polusi kembali meningkat.
Pemantauan secara berkala juga penting untuk mengetahui apakah perbaikan kualitas udara berlangsung secara konsisten atau hanya bersifat sementara.
Dengan seluruh wilayah yang dipantau berada pada kategori sedang per Rabu pagi, perkembangan kualitas udara Sumatera Barat menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan kondisi tidak sehat yang dilaporkan sebelumnya.
Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman.



Tinggalkan Balasan