PADANG, NUSATIME — Proyek pembangunan jalan layang (flyover) Sitinjau Lauik di kawasan Panorama, Kota Padang, mulai memicu kekhawatiran masyarakat di Kecamatan Lubuk Kilangan. Aktivitas pengerjaan fisik dan pematangan lahan di jalur penghubung Padang–Solok tersebut berdampak langsung terhadap penurunan kualitas dan pasokan sumber air bersih di lima kelurahan, yakni Indarung, Batu Gadang, Padang Basi, Baringin, dan Tarantang.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, titik mata air alami di hulu Sungai Batang Indarung yang selama ini menjadi tumpuan air bersih warga serta pasokan PDAM mengalami kekeruhan signifikan. Material sedimen galian tanah dan pembukaan vegetasi di lereng terjal Sitinjau Lauik membuat lumpur terbawa aliran hujan menuju daerah tangkapan air (catchment area).

Kondisi ini meresahkan permukiman di sepanjang aliran sungai. Warga di Indarung dan Batu Gadang yang berada paling dekat dengan lokasi proyek mengeluhkan air keruh pekat yang masuk ke bak penampungan. Sementara itu, wilayah Padang Basi, Baringin, dan Tarantang turut merasakan dampaknya berupa penurunan debit air hingga terputusnya aliran akibat pipa distribusi lokal yang rusak terkena pengerukan alat berat.

“Sejak pengerjaan fisik intensif dilakukan, air yang mengalir ke rumah sering keruh dan berlumpur, terutama saat hujan. Kami di Baringin dan Tarantang bahkan sempat tidak mengalir sama sekali karena pipa terputus,” ujar Hendra (42), salah seorang warga terdampak.

Secara teknis, pembukaan lahan di kawasan resapan air Sitinjau Lauik berpotensi mengganggu kestabilan akuifer tanah jika tidak diimbangi mitigasi lingkungan yang ketat. Pemerintah daerah bersama pihak kontraktor pelaksana menyatakan telah menerima keluhan dari lima kelurahan tersebut dan menyiapkan langkah tanggap darurat.

Meski demikian, janji tanggap darurat tersebut dinilai belum terealisasi secara transparan. Warga di lima kelurahan mengaku hingga saat ini belum menerima kejelasan mengenai hasil analisis dampak lingkungan maupun pemanggilan resmi dari pihak pelaksana untuk duduk bersama membahas solusi konkret. (*)