- Pengunduran diri Nanik S. Deyang dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) disambut positif oleh para mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai momentum perbaikan tata kelola kemitraan.
- Gaya kepemimpinan sebelumnya dan hadirnya Surat Edaran BGN Nomor 12 Tahun 2026 dinilai kerap menimbulkan kecemasan serta memicu krisis kepercayaan bagi para pelaksana di lapangan.
- Para mitra berharap kepemimpinan baru BGN dapat mengedepankan empati, kebijaksanaan, dan membangun kembali rasa saling percaya demi keberlangsungan Program MBG.
Ada kalanya sebuah kabar tidak perlu diumumkan dengan sirene. Cukup beredar di media sosial, lalu ribuan orang tersenyum pada waktu yang hampir bersamaan.
Begitulah kira-kira suasana hati banyak Mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika membaca kabar pengunduran diri Nanik S. Deyang (NSD) dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Apa pun alasan resmi yang melatarbelakanginya, termasuk alasan kesehatan, banyak mitra berharap pergantian kepemimpinan ini menjadi awal dari hubungan yang lebih sehat antara BGN dan para pelaksana program di lapangan.
Dalam dunia kepemimpinan, rasa takut memang bisa membuat orang patuh. Tetapi rasa hormatlah yang membuat orang rela berjuang. Sayangnya, keduanya sering kali tertukar.

Mitra MBG bukanlah pegawai yang menunggu gaji setiap akhir bulan. Mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan modal, tenaga, waktu, bahkan nama baik demi memastikan Program MBG dapat berjalan hingga ke pelosok negeri. Ironisnya, di mata sebagian mitra, mereka justru lebih sering diposisikan sebagai pihak yang dicurigai daripada diapresiasi.

Sidak demi sidak dilakukan. Kamera menyala. Kekurangan diumumkan. Di mata sebagian mitra, yang terlihat bukan semangat pembinaan, melainkan lebih menyerupai panggung pencarian kesalahan. Yang dibangun bukan rasa saling percaya, tetapi kecemasan.
Lalu lahirlah Surat Edaran BGN Nomor 12 Tahun 2026. Bagi banyak mitra, regulasi itu terasa bukan sebagai jembatan kemitraan, melainkan tembok yang memperlebar jarak antara regulator dan pelaksana. Ketika sebuah kebijakan lebih banyak menghadirkan keresahan daripada kepastian, maka yang melemah bukan hanya semangat para mitra, tetapi juga kepercayaan terhadap program itu sendiri.
Padahal, Program MBG tidak mungkin berdiri hanya dengan pidato dan konferensi pers. Program ini hidup karena ada ribuan yayasan, mitra, relawan, tenaga gizi, juru masak, dan para pekerja lapangan yang rela mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan perasaannya demi memastikan makanan bergizi sampai kepada para penerima manfaat.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa memimpin lembaga negara membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan administratif atau kedekatan dengan pusat kekuasaan. Seorang pemimpin publik dituntut memiliki kebijaksanaan, empati, kemampuan berkomunikasi, serta kesediaan mendengar kritik. Jabatan publik bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa yang paling keras, melainkan amanah untuk menghadirkan solusi.
Kini publik berharap kepemimpinan baru BGN mampu membangun kembali kepercayaan yang sempat terkikis. Mitra tidak pernah meminta diperlakukan istimewa. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai mitra yang dihargai, bukan sebagai pihak yang setiap saat merasa berada di kursi pesakitan.
Sebagai penutup, para mitra tentu hanya bisa mendoakan semoga Ibu Nanik S. Deyang segera pulih kesehatannya, memperoleh ketenangan dalam menjalani kehidupan, dan sukses menapaki kembali karier di bidang jurnalistik.
Karena pada akhirnya, jabatan boleh berakhir, tetapi nama baik dan jejak kepemimpinan akan selalu menjadi bagian dari penilaian publik. Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa seorang pejabat publik bukan hanya dituntut mampu membuat kebijakan, tetapi juga mampu membangun kepercayaan dan menghormati mereka yang bekerja di garis depan.
Sebab sejarah selalu membuktikan satu hal: jabatan hanya memiliki batas waktu, tetapi cara seorang pemimpin memperlakukan orang lain akan dikenang jauh lebih lama daripada masa jabatannya. (*/Redaksi )



Tinggalkan Balasan