Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med
( CEO ALINIA GROUP )
PADANG, NUSATIME.ID-Ada kenyataan pahit dalam hubungan antarmanusia: kebaikan terkadang diukur dari seberapa sering kita mengatakan “iya”. Selama bersedia membantu, kita dipuji. Namun, ketika sekali saja menolak, seolah seluruh kebaikan sebelumnya kehilangan arti.
Kemarin disebut peduli, hari ini dianggap sombong. Kemarin dipuji dermawan, hari ini dituding pelit. Padahal, yang berubah mungkin hanya satu: kita sedang tidak mampu memenuhi keinginan mereka.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa menjadi orang baik tidak berarti harus selalu menjadi orang yang menurut. Kita memiliki keterbatasan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan. Ada keluarga yang harus diperhatikan, tanggung jawab yang mesti diselesaikan, serta prinsip yang perlu dipertahankan.
Terus mengatakan “iya” demi menjaga penilaian orang lain bisa membuat kita kehilangan kendali atas kehidupan sendiri. Kita sibuk menghindari kekecewaan orang, sementara kelelahan kita sendiri tidak pernah mendapat perhatian.

Dalam kepemimpinan, keberanian menolak justru diperlukan. Pemimpin yang selalu mengabulkan permintaan belum tentu bijaksana. Ada permintaan yang menguntungkan seseorang, tetapi merugikan banyak orang. Ada keinginan yang menyenangkan hari ini, tetapi menimbulkan persoalan esok hari. Ketegasan sering kali menjadi harga yang harus dibayar untuk menjaga keadilan.
Namun, jangan pula menjadikan gagasan ini sebagai pembenaran untuk bersikap kasar atau mengabaikan kewajiban. Menolak tetap memerlukan kesantunan. Janji yang telah dibuat harus dipertanggungjawabkan. Kritik yang beralasan patut didengarkan. Tidak setiap orang yang kecewa berarti sedang memanfaatkan kita.
Yang perlu dibangun adalah hubungan yang memberi ruang untuk saling memahami. Orang yang menghargai kita akan berusaha mengerti ketika kita berkata, “Maaf, kali ini saya belum bisa.” Kekecewaan sesaat seharusnya tidak menghapus penghargaan terhadap seseorang.
Karena itu, teruslah membantu dengan tulus, tetapi kenali batas kemampuan. Jangan biarkan rasa takut dianggap buruk membuat kita menyanggupi sesuatu yang tidak sanggup kita jalankan.
Kita bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita, tetapi tidak dapat mengendalikan seluruh penilaian orang. Tetaplah baik, tetaplah santun, dan beranilah berkata tidak ketika memang diperlukan.



Tinggalkan Balasan