Padang-Keputusan manajer Tim Nasional Inggris, Thomas Tuchel, untuk menerapkan taktik bertahan ekstrem di pertengahan babak kedua menjadi sorotan tajam menyusul kekalahan tragis 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Alih-alih menyesali keputusannya, Tuchel justru pasang badan dan membela rentetan pergantian pemain kontroversial yang ia lakukan.
Inggris sejatinya tampil solid dalam laga semifinal yang berlangsung alot tersebut. The Three Lions bahkan sukses memecah kebuntuan pada menit ke-55 ketika Anthony Gordon menyontek masuk umpan silang Morgan Rogers di tiang jauh. Namun, keunggulan itu justru memicu petaka taktis.
Dengan waktu normal yang masih menyisakan 35 menit, Inggris secara drastis menarik diri ke garis pertahanan dan mencoba mengamankan keunggulan tipis tersebut. Ketika Argentina semakin percaya diri usai jeda istirahat minum (hydration break), Tuchel justru menarik keluar sang pencetak gol, Anthony Gordon, untuk memasukkan bek Ezri Konsa demi transisi ke formasi lima bek.
Sepuluh menit berselang, Dan Burn dan Nico O’Reilly turut dimasukkan untuk menebalkan tembok pertahanan. Sayangnya, tekanan tanpa henti Argentina akhirnya meruntuhkan taktik tersebut lewat gol spektakuler Enzo Fernandez dan sundulan injury time Lautaro Martinez.
Statistik mencatat rekor yang memprihatinkan: di antara jeda gol Gordon dan gol kemenangan Martinez, Inggris hanya mampu mencatatkan 12 persen penguasaan bola.

Legenda Inggris, Wayne Rooney, melontarkan kritik pedas dengan menyebut bahwa keputusan-keputusan pergantian pemain yang dilakukan Tuchel “telah membuat Inggris kehilangan permainan”. Taktik negatif ini juga mengingatkan publik pada memori kelam era Gareth Southgate, yang kerap dikritik karena bermain terlalu bertahan saat kalah dari Kroasia di Piala Dunia 2018 dan Italia di final Euro 2020.
Meski mendapat cecaran, pelatih asal Jerman itu bersikeras bahwa ia tidak menyesali pergantian pemain yang dilakukannya.
“Kami memutuskan untuk beralih ke formasi lima bek karena celah (di pertahanan) sudah terlalu terbuka,” ungkap Tuchel kepada BBC Sport seusai pertandingan.
“Mereka (Argentina) memenangkan setiap duel udara, mereka terus-menerus melepaskan umpan silang. Jadi kami beralih ke lima bek untuk menutup celah di area dalam dan agar lebih kuat di udara. Tepat setelah gol kami, tanpa adanya pergantian pemain, kami kebobolan terlalu banyak umpan silang dan peluang. Kami mencoba membantu pertahanan, namun tentu saja tanggung jawab ada pada pelatih; jika hasilnya tidak bagus, sangat mudah untuk mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang salah.”
Ketika ditanya apakah Inggris seharusnya tetap menekan untuk mencari gol kedua demi “membunuh” pertandingan, mantan pelatih Bayern Munich dan Chelsea itu memberikan jawaban taktis.
“Ya, tetapi niat itu tidak akan membantu jika Anda tidak memegang bola,” dalih Tuchel. “Tentu saja kami ingin mencari gol kedua, tetapi saya tidak merasa bahwa pergantian pemain ofensif akan membantu saat itu.”
“Kami tetap dalam formasi 4-4-2 (sebelum pergantian), tetapi menjadi semakin pasif. Kami tidak bisa memenangkan perebutan bola, tidak bisa mempertahankan penguasaan bola. Jadi saya pikir ini bukanlah masalah struktural. Kami tidak mengubah apa pun setelah mencetak gol, tetapi jalannya pertandingan berubah sepenuhnya.”
Tuchel menutup konferensi persnya dengan tetap mengapresiasi kerja keras skuad Three Lions yang dinilainya nyaris berhasil melaju ke final.
“Anda bisa mendiskusikan hal ini dengan jutaan pelatih lain. Saya harus membuat keputusan di atas lapangan. Begitulah cara saya menganalisis pertandingan dan saya mengambil tanggung jawab penuh. Tim ini bermain luar biasa, kami nyaris saja berhasil,” pungkasnya. (**)



Tinggalkan Balasan