- Indonesia akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar pada bulan depan dengan menghadirkan para ulama terkemuka dunia, termasuk Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdulrahman Al-Sudais sebagai pembicara utama.
- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan forum internasional tersebut mengusung misi membangun kerja sama global guna mencegah radikalisme melalui pendekatan dialog, keilmuan, dan metodologi moderasi beragama khas Indonesia.
- Rencana konferensi ini disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Asisten Menteri Luar Negeri Australia Matt Thistlethwaite di Masjid Istiqlal, yang sekaligus membahas penguatan kolaborasi kedua negara di bidang pendidikan tinggi dan moderasi beragama.
JAKARTA – Indonesia bersiap menjadi pusat perhatian dunia Islam. Bulan depan, pemerintah akan menggelar Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar yang mempertemukan para ulama terkemuka dari berbagai negara, termasuk Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Abdulrahman Al-Sudais, yang dijadwalkan menjadi pembicara utama.
Rencana penyelenggaraan forum internasional tersebut disampaikan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menerima kunjungan Asisten Menteri Luar Negeri Australia Matt Thistlethwaite di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Pertemuan itu turut dihadiri Presiden Australian National Imams Council (ANIC) Shady Alsuleiman dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier.
“Insyaallah, bulan depan kami akan menyelenggarakan Konferensi Internasional Asosiasi Imam Besar. Konferensi tersebut akan dihadiri oleh banyak ulama terkemuka dunia, termasuk Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Sudais, yang dijadwalkan menjadi pembicara utama,” ujar Menag Nasaruddin Umar, dikutip dari laman Kementerian Agama.
Menag yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal menjelaskan, konferensi tersebut membawa misi membangun kerja sama global dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme melalui pendekatan keilmuan, dialog, dan metodologi yang telah dikembangkan Indonesia.
“Salah satu tujuan penyelenggaraan konferensi internasional yang akan kami adakan adalah membangun kerja sama global untuk mencegah berkembangnya radikalisme melalui pendekatan keilmuan, dialog, dan metodologi yang telah kami kembangkan di Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga menunjukkan sebuah lukisan yang mengabadikan momen kebersamaannya dengan Paus Fransiskus kepada Matt Thistlethwaite. Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam membangun moderasi beragama kini semakin banyak menjadi rujukan di berbagai negara.
“Kami membangun cara pandang keislaman yang moderat. Banyak negara mengundang kami untuk berbagi pengalaman karena kami memiliki metodologi khusus dalam menjelaskan Islam dengan perspektif yang modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya,” ungkapnya.
Selain membahas rencana konferensi internasional, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Australia, terutama di bidang pendidikan tinggi dan penguatan moderasi beragama.
“Kami sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah universitas di Australia. Mudah-mudahan mulai tahun depan kolaborasi tersebut dapat direalisasikan. Australia adalah negara tetangga kami, sehingga hubungan akademik maupun keagamaan perlu terus diperkuat,” kata Menag.
Menanggapi hal itu, Asisten Menteri Luar Negeri Australia Matt Thistlethwaite menyampaikan dukungannya terhadap penguatan hubungan kedua negara. Ia menilai kerja sama di sektor pendidikan dan kehidupan beragama memiliki peran penting dalam mempererat hubungan Indonesia dan Australia.
“Saat ini terdapat sekitar 25.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Australia, sehingga mereka juga menjalankan kehidupan beragama sebagai bagian dari komunitas kami. Mereka menjadi bagian penting dari hubungan people-to-people antara kedua negara,” ujar Matt.
Ia juga mengapresiasi kontribusi komunitas Muslim di Australia dalam menjaga kerukunan dan memperkuat keberagaman di tengah masyarakat.
“Saya secara rutin menghadiri berbagai kegiatan bersama komunitas Muslim, mulai dari acara Ramadan, buka puasa bersama (iftar), hingga perayaan Idulfitri. Mereka juga menjalankan peran yang sangat penting dalam menumbuhkan sikap saling menghormati, menerima perbedaan, dan mempererat persahabatan di tengah masyarakat Australia,” lanjutnya.
Di akhir pertemuan, Matt menyampaikan apresiasi atas komitmen Indonesia dalam membangun hubungan persahabatan dengan Australia.
“Anda telah mengulurkan tangan persahabatan kepada Australia. Kami menerimanya dengan penuh rasa hormat dan berharap dapat terus bekerja sama dengan Anda di masa mendatang,” pungkasnya. (fix)



Tinggalkan Balasan