PADANG, NUSATIME.ID— Ketebalan kabut asap kiriman yang kian memburuk di Kota Padang mulai mengancam kesehatan para siswa. Kualitas udara yang merosot hingga kategori tidak sehat memicu desakan kuat agar Pemerintah Kota (Pemko) Padang segera mengevaluasi pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) demi keselamatan peserta didik.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Udara (AQI) pada Selasa (8/9/2026), angka kualitas udara Padang menembus 153 dengan tingkat polutan PM2.5 yang membatasi jarak pandang. Bencana ekologis yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah tetangga seperti Riau dan Jambi ini dinilai sudah pada tahap membahayakan aktivitas fisik anak di sekolah.
Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye, menegaskan bahwa skema belajar tatap muka tidak boleh dipaksakan jika risiko paparan kabut asap terus meningkat. Menurutnya, Pemko Padang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus berani mengambil keputusan tegas untuk memindahkan kegiatan belajar ke rumah.
“Jika kabut asap ini berisiko merusak kesehatan, kami di DPRD Padang menyarankan agar pembelajaran tatap muka dialihkan ke sistem daring sampai kondisi udara benar-benar teratasi,” tegas Mastilizal Aye di Padang, Selasa (8/9/26).
Ia menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dari ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain opsi sekolah daring, DPRD Padang juga mendesak Pemko tidak hanya membagikan masker kepada pengguna jalan, tetapi mendistribusikannya secara langsung ke sekolah-sekolah untuk digunakan murid dan guru.

Merespons desakan evaluasi PTM tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yopi Krislova, menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan kualitas udara sebagai pertimbangan mengambil keputusan. Saat ini, kewajiban penggunaan masker bagi siswa telah diberlakukan sejak Senin (7/9/2026), meski masker masih disediakan secara mandiri oleh orang tua.
“Untuk opsi sekolah daring, kami terus memantau perkembangan keadaan secara cermat. Jika kabut asap dinilai sudah sangat berisiko bagi kesehatan anak-anak, terpaksa pembelajaran kita alihkan secara daring,” ujar Yopi.
Suara senada mengenai pentingnya reorientasi kebijakan belajar datang dari kalangan orang tua siswa. Andi F, salah satu perwakilan orang tua, mengingatkan agar pemerintah dan pihak sekolah tidak mengorbankan keselamatan anak demi mengejar target kehadiran fisik.
“Yang utama adalah keselamatan dan kesehatan siswa. Jangan sampai kita memaksakan pembelajaran tatap muka di tengah kondisi udara yang merusak kesehatan. Jika indikator udara sudah sangat tidak sehat, segera alihkan ke daring,” kata Andi.
Sebelum keputusan penghentian PTM diambil secara penuh, Renol menyarankan langkah mitigasi transisi, seperti menghentikan seluruh aktivitas luar ruangan (seperti olahraga dan upacara) serta menyesuaikan jam masuk sekolah. Ia juga berharap para guru dapat memanfaatkan momentum bencana ekologis ini sebagai materi edukasi kontekstual mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. (sal)



Tinggalkan Balasan