- Kesibukan yang produktif dan terarah dinilai esensial untuk menjaga fokus tujuan serta menghindarkan diri dari perilaku negatif, seperti rasa iri dan mencampuri urusan orang lain.
- Dalam aspek kepemimpinan (leadership), seorang pemimpin dituntut berorientasi pada pencarian solusi, pengembangan tim, serta pembangunan kepercayaan daripada memperpanjang konflik.
- Pada ranah kewirausahaan (entrepreneurship), pelaku usaha diimbau untuk berfokus mengoptimalkan peluang internal melalui peningkatan kualitas produk, pelayanan, dan pasar daripada membuang energi terhadap kompetitor.
Oleh : Drs.H.Marlis,MM, C.Med
(CEO ALINIA GROUP)
NUSATIME.ID – Dalam kehidupan, bisnis, dan kepemimpinan, kesibukan yang produktif adalah salah satu cara terbaik menjaga pikiran tetap sehat dan tujuan tetap hidup.
Paksa dirimu untuk sibuk. Bukan sekadar sibuk tanpa arah, tetapi sibuk belajar, bekerja, berkarya, membangun jaringan, mencari peluang, memperbaiki kesalahan, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Ketika seorang pemimpin sibuk membangun timnya, ia tidak punya banyak waktu untuk menjatuhkan orang lain. Ketika seorang entrepreneur sibuk mengembangkan usahanya, ia tidak akan menghabiskan energi untuk iri terhadap keberhasilan kompetitor.
Orang yang punya tujuan akan sibuk mengejar masa depan. Orang yang kehilangan tujuan sering kali justru sibuk mengurusi kehidupan orang lain.

Dalam leadership, kesibukan harus melahirkan manfaat. Pemimpin bukan sekadar orang yang banyak bekerja, tetapi orang yang mampu membuat dirinya dan timnya terus bertumbuh. Ia lebih memilih mencari solusi daripada mencari kesalahan, membangun kepercayaan daripada menebar prasangka, dan menciptakan prestasi daripada memperpanjang konflik.
Begitu pula dalam entrepreneurship. Jangan habiskan waktu menghitung keberhasilan orang lain. Hitunglah peluangmu sendiri. Jangan terlalu lama membicarakan kompetitor. Perbaiki produk, tingkatkan pelayanan, perluas pasar, dan bangun kepercayaan pelanggan.
Waktu dan energi kita terlalu mahal untuk dihabiskan pada kebencian, prasangka, kebohongan, dan urusan yang tidak membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Karena itu, paksa dirimu untuk sibuk dengan hal-hal yang membuatmu naik kelas.
Sibuklah belajar. Sibuklah berkarya. Sibuklah memperbaiki diri. Sibuklah membangun usaha. Sibuklah membantu orang lain bertumbuh.
Sampai akhirnya kita terlalu sibuk mengejar tujuan untuk sempat membenci, dan terlalu sibuk membangun masa depan untuk mengurusi kehidupan orang lain.
“Paksa dirimu untuk sibuk berkarya, karena orang yang fokus membangun masa depan tak punya waktu untuk menjatuhkan orang lain.” (* )



Tinggalkan Balasan