- Manajemen Semen Padang FC mendapat sorotan lantaran belum mengoptimalkan pembinaan pemain muda lokal dan cenderung menyerahkan tim Elite Pro Academy (EPA) kepada akademi di Pulau Jawa.
- Para pelaku sepak bola di Sumatra Barat mendesak SPFC agar membentuk akademi mandiri berbasis talenta Ranah Minang untuk menghadapi kompetisi EPA Championship U-19 musim 2026/2027.
- Pembinaan usia muda secara mandiri dinilai krusial sebagai fondasi jangka panjang klub sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem Sekolah Sepak Bola (SSB) di daerah.
Padang-Dalam beberapa episode terakhir terutama saat berlaga di Liga 1, Semen Padang FC (SPFC) tidak lagi memanfaatkan pemain muda Ranah Minang untuk memperkuat tim muda yakni Elite Pro Academy (EPA). Untuk urusan tim EPA ini, Manajemen menyerahkan tim ke akademi di Pulau Jawa.
Untuk kompetisi 2026/2027, Semen Padang yang akan berlaga di Liga 2 atau Championship, kemungkinan tetap memiliki tim usia muda, di mana tim Liga 2 juga mempunyai kompetisi usia muda yakni, di EPA Championship U-19. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, pelaku Sepakbola Ranah Minang berharap, Kabau Sirah melakukan pembinaan sendiri dengan memanfaatkan pemain muda Sumbar yang ada di ratusan SSB di Ranah Minang, bukan lagi menyerahkan ke akademi Pulau Jawa.
“Dalam beberapa episode kompetisi EPA yang diikuti Semen Padang, manajemen lebih memilih akademi di Pulau Jawa dari pada memanfaatkan potensial pemain muda Sumbar. Karena tahun ini, manajemen begitu serius dalam membina tim, kami berharap untuk tim usia muda dibentuk sendiri dengan memanfaatkan talenta-talenta Ranah Minang,” Bambang salah seorang pelatih SSB di Sumbar kepada nusatime.id, Jumat (24/76/26).
Kondisi sepak bola Indonesia memang sering menghadapi dilema terkait pembinaan usia muda. Banyak klub profesional dinilai tidak optimal dalam membina tim Elite Pro Academy (EPA), melainkan hanya “comot pemain” dari Sekolah Sepak Bola (SSB) atau membebankan biaya seleksi agar bisa tampil di kompetisi EPA. Klub profesional yang tidak memiliki akademi mandiri terpaksa menyerahkan ke SSB. Dan itu terjadi di Semen Padang FC, di mana mereka tidak lagi melakukan pembinaan yang berjenjang.
“Makanya, kami sangat berharap Semen Padang membentuk akademi sendiri dengan memanfaatkan putra daerah,” tegasnya.

Katanya, kompetisi bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari proyek jangka panjang membangun fondasi kuat bagi perkembangan klub. Tapi, kalau klubnya tidak melakukan pembinaan sendiri dan menyerahkan ke pihak lain, tentu tujuan dari kompetisi usia muda untuk klub tidak tercapai. Selain itu, dengan pembinaan sendiri yang dilakukan klub dengan memanfaatkan putra daerah, maka kekuatan akar rumput di SSB akan terjaga. Karena ada, wadah untuk mereka mencetak pemain.
“Jadi pada pelaksanaan EPA Championship U-19, kami sangat berharao Semen Padang memiliki tim binaan tersendiri bukan lagi menyerahkan ke SSB atau akademi di Pulau Jawa,” pintanya. (sal)



Tinggalkan Balasan