Rangkuman Utama
  • Dua perempuan berlatar belakang aparatur sipil negara dan Dharma Wanita, Hj. Harmita dan Hj. Elmawati, berhasil bertransformasi menjadi pengusaha sukses serta masing-masing dipercaya memimpin IWAPI di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Agam.
  • Keduanya sama-sama menekuni bisnis peternakan ayam modern bersistem closed house, sekaligus melakukan diversifikasi ke sektor lain seperti pariwisata, pendidikan, pelayanan makanan, hingga transportasi bus.
  • Kiprah Harmita dan Elmawati merefleksikan keberdayaan perempuan dalam membangun kepemimpinan, jaringan, serta kemandirian ekonomi tanpa tereduksi oleh peran domestik ataupun status jabatan suami.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Harmita datang dari dunia ASN, Elmawati tumbuh bersama aktivitas Dharma Wanita. Kini keduanya bertemu sebagai pengusaha dan pemimpin IWAPI—membuktikan bahwa setiap fase kehidupan selalu menyediakan ruang baru untuk bertumbuh.

PADANG | NUSATIME.ID  — Minggu pagi, 6 September 2026, dua perempuan berjalan berdampingan di Pantai Padang. Sekilas, tak ada yang berbeda dari aktivitas mereka: berolahraga, menikmati udara laut, dan berbincang sebagai dua sahabat. Namun perjalanan Hj. Harmita, SKM, MM dan Hj. Elmawati menyimpan kisah menarik tentang dua perempuan yang datang dari latar berbeda, lalu bertemu dalam satu dunia yang sama: entrepreneurship.

Hari ini keduanya dikenal sebagai perempuan pengusaha. Harmita memimpin IWAPI Kabupaten Dharmasraya, sementara Elmawati dipercaya sebagai Ketua IWAPI Kabupaten Agam.

Menariknya, keduanya sama-sama menekuni peternakan ayam modern dengan sistem closed house—sebuah bisnis yang membutuhkan investasi besar, teknologi, disiplin produksi, kemampuan manajerial, dan keberanian menghadapi risiko.

Tetapi peternakan ternyata hanya salah satu bagian dari perjalanan bisnis mereka.

Harmita: Pensiun, Lalu Membangun Portofolio Bisnis

Harmita berasal dari Muaro Paneh, Kabupaten Solok. Sebagian besar perjalanan profesionalnya ditempa sebagai ASN di RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Ketika masa pengabdian sebagai ASN berakhir, Harmita tidak memilih berhenti produktif. Justru fase itulah yang membuka ruang lebih luas baginya memasuki dunia entrepreneurship.

Perjalanan bisnis Harmita kemudian berkembang ke berbagai sektor.

Selain peternakan ayam modern, ia bergerak di sektor pariwisata melalui Alinia Park & Resort, bisnis agen LPG, pendidikan melalui Kampung Inggris Alinia dan Alinia Islamic School, pelayanan SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG), KBIH, hingga usaha Perhotelan.

Portofolio tersebut memperlihatkan keberanian Harmita melakukan diversifikasi. Dari energi, pendidikan, pariwisata, hospitality, pelayanan makanan, hingga peternakan—sektor-sektor dengan karakter dan tantangan yang berbeda.

Di sinilah perjalanan Harmita memberikan pesan menarik: pensiun dari sebuah profesi tidak berarti pensiun dari produktivitas.

Ia justru mengubah pengalaman, jejaring, kedisiplinan, dan kematangan yang diperoleh selama menjadi ASN menjadi modal untuk memasuki babak kehidupan berikutnya sebagai pengusaha.

Elmawati: Dari Mendampingi, Menjadi Pengusaha

Cerita Elmawati, perempuan asal Manggopoh, Kabupaten Agam, mempunyai warna berbeda.

Seiring perjalanan karier suaminya, Edi Busti, dalam birokrasi hingga pernah menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Elmawati banyak bersentuhan dengan aktivitas Dharma Wanita.

Namun ia kemudian membangun ruang aktualisasinya sendiri.

Selain mengembangkan peternakan ayam modern, Elmawati juga bergerak dalam bisnis transportasi bus—sektor yang menuntut kemampuan mengelola armada, operasional, sumber daya manusia, pelayanan, serta risiko usaha yang tidak kecil.

Perjalanannya kemudian membawanya dipercaya menjadi Ketua IWAPI Kabupaten Agam.

Elmawati menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat menjalankan peran keluarga sekaligus membangun identitas profesionalnya sendiri.

Ia tidak lagi hanya berada di belakang perjalanan karier sang suami. Ia mempunyai usaha, jaringan, tanggung jawab, dan kepemimpinannya sendiri.

Berbeda Jalan, Bertemu dalam Entrepreneurship

Harmita dan Elmawati memang mempunyai banyak titik temu, tetapi keduanya sampai ke sana melalui perjalanan berbeda.

Harmita ditempa melalui karier panjang sebagai ASN dan kemudian membangun portofolio usaha lintas sektor.

Elmawati bertumbuh bersama pengalaman sosial dan Dharma Wanita sebelum mengembangkan bisnis peternakan serta transportasi.

Harmita berakar dari Muaro Paneh, Kabupaten Solok. Elmawati berasal dari Manggopoh, Kabupaten Agam.

Tetapi keduanya memiliki keberanian yang sama: keluar dari zona yang sudah mereka kenal dan memasuki dunia usaha.

Kesamaan lain mempertemukan mereka dalam IWAPI. Harmita dipercaya memimpin IWAPI Dharmasraya dan Elmawati memimpin IWAPI Agam. Dalam Musda IWAPI Sumatera Barat pada 3 September 2026, keduanya juga memberikan dukungan kepada Hj. Nurmidalmi, yang kemudian terpilih sebagai Ketua IWAPI Sumatera Barat.

Ada pula persahabatan keluarga yang membuat hubungan mereka semakin dekat. Harmita merupakan istri Drs. H. Marlis, MM, C.Med, Ketua Umum DPN ASANTARA, sedangkan Elmawati adalah istri Edi Busti mantan Sekda Kabupaten Agam. Kedua suami mereka juga bersahabat.

Namun Harmita dan Elmawati mempunyai cerita dan pencapaiannya sendiri.

Bukan Sekadar “Istri dari”

Di sinilah sisi inspiratif perjalanan keduanya menjadi semakin kuat.

Dalam kehidupan sosial, seorang perempuan terkadang lebih dahulu diperkenalkan melalui posisi suaminya.

Tetapi Harmita dan Elmawati memperlihatkan sisi lainnya.

Mereka adalah istri dan ibu dalam keluarga, tetapi pada saat yang sama juga pengusaha, pengambil keputusan, pengelola bisnis, dan pemimpin organisasi.

Mereka tidak meninggalkan peran sebelumnya untuk mendapatkan identitas baru. Sebaliknya, pengalaman kehidupan tersebut menjadi fondasi untuk memasuki ruang yang lebih luas.

Harmita membawa kedisiplinan dunia ASN ke dalam bisnis.

Elmawati membawa pengalaman sosial dan organisasi menuju entrepreneurship.

Dua latar berbeda, tetapi keduanya membangun nama melalui karya mereka sendiri.

Terus Melangkah

Pagi semakin meninggi di Pantai Padang.

Harmita dan Elmawati terus berjalan berdampingan. Tidak sedang menghadiri rapat IWAPI. Tidak sedang mengurus kandang ayam, hotel, sekolah, resort ataupun armada bus.

Pagi itu mereka hanya dua sahabat yang menyediakan waktu untuk kesehatan, percakapan, dan menikmati hidup.

Tetapi jalan pagi tersebut seperti menjadi metafora perjalanan keduanya.

Mereka tidak memulai kehidupan dari titik yang sama. Profesi awal mereka berbeda. Kampung halaman mereka berbeda. Skala dan diversifikasi bisnis mereka pun berkembang dengan jalannya masing-masing.

Namun keduanya mempunyai satu sikap yang sama: tidak berhenti bertumbuh.

Harmita menunjukkan bahwa pensiun dapat menjadi awal sebuah ekspansi kehidupan baru.

Elmawati memperlihatkan bahwa bertahun-tahun mendampingi perjalanan karier suami tidak menghalangi seorang perempuan untuk kemudian berdiri sebagai pengusaha dan pemimpin dengan namanya sendiri.

Harmita dan Elmawati adalah dua perempuan dengan jalan berbeda yang akhirnya bertemu dalam satu semangat: berani berkarya, berani memimpin, dan tidak pernah merasa terlambat untuk membangun babak baru kehidupan.

Karena perempuan berdaya bukanlah perempuan yang harus melakukan semuanya sendirian.

Ia adalah perempuan yang tahu kapan harus melangkah sendiri, kapan harus menggandeng orang lain, dan kapan harus berjalan bersama. (*/Redaksi )