- Semen Padang FC resmi memindahkan markasnya ke Kota Bekasi karena GOR Haji Agus Salim Padang sedang direnovasi total yang diperkirakan baru selesai pada tahun 2028.
- Kepindahan ini berdampak pada hilangnya hiburan sepak bola profesional di Sumatra Barat serta menurunkan perekonomian pedagang kecil dan penyedia jasa di sekitar area stadion.
- Klub berjuluk Kabau Sirah tersebut terancam kehilangan atmosfer dukungan suporter dan keuntungan laga kandang, sementara pendukung lokal harus merogoh kocek lebih dalam jika ingin menonton langsung.
Padang-Masyarakat pencinta sepakbola dalam beberapa tahun kedepan sudah dipastikan kehilangan tontonan dan hiburan sepakbola profesional Indonesia di Ranah Minang. Pasalnya, Semen Padang FC satu-satu klub profesional asal Sumbar telah menetapkan Kota Bekasi sebagai markas dalam menaungi Liga 2.
“Hiburan sepakbola yang selama ini kita nikmati di Sumbar, dalam beberapa tahun mungkin tidak bisa lagi terjadi, soalnya Semen Padang FC sudah tidak berkandang di sini lagi. Sebagai pencinta sepakbola, terutama Semen Padang tentu kita sangat kecewa. Kayaknya manajemen tidak mau mencari solusi lain, agar bisa berkandang di Ranah Minang,” terang Mutia Ari pencinta sepakbola Sumbar di Padang, Sabtu (18/7/26).
Semen Padang FC terpaksa memindahkan markasnya ke Pulau Jawa, setelah stadion kebanggaan Ranah Minang, GOR Haji Agus Salim dirombak total. Perkiraan awal, rekonstruksi Stadion Agus Salim ini baru akan seleksi tahun 2028. Itu artinya lebih kurang, 2 tahun masyarakat Sumbar tidak bisa menikmati hiburan sepakbola nasional.
Kata Mutia, selain kehilangan hiburan utama dan sumber kebanggaan lokal, kepindahan Semen Padang ini juga berdampak pada menurunnya ekonomi warga di sekitar stadion yang biasa mendapat rezeki dari hari pertandingan.
“Pindahnya Semen Padang, selain hiburan warga pedagang kecil, tukang parkir, dan penyedia layanan transportasi di sekitar area stadion juga terdampak, karena mereka kehilangan potensi pemasukan rutin akibat hilangnya keramaian penonton,” terangnya.

Dijelaskannya, kalau pun dipaksa untuk menyaksikan Semen Padang langsung ke home base baru, para pencinta sepakbola harus mengeluarkan ongkos lebih mahal dan meluangkan lebih banyak waktu,” terangnya.
Selain itu, tambahnya, Semen Padang akan kehilangan atmosfer, Kabau Sirah tentu bakal kesulitan membangun kembali antusiasme penonton dan keangkeran markas (faktor home advantage) di lokasi baru yang belum memiliki ikatan emosional dengan masyarakat setempat. (sal)



Tinggalkan Balasan