Rangkuman Utama
  • Kabut asap kiriman karhutla diprakirakan masih menyelimuti wilayah Sumatera Barat hingga 23 Oktober 2026 dan baru membaik signifikan mulai 24 Oktober seiring potensi datangnya hujan merata.
  • Dampak sebaran asap telah menurunkan kualitas udara setempat, ditandai dengan lonjakan konsentrasi partikel PM2.5 di Stasiun GAW Bukit Kototabang yang sempat menyentuh kategori Tidak Sehat.
  • BMKG mengimbau kewaspadaan terhadap potensi karhutla lokal di sejumlah daerah Sumbar, sekaligus menerbitkan peringatan dini hujan sedang hingga lebat per 23 Oktober guna meluruhkan polutan.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, NUSATIME.ID — Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diprakirakan masih berpotensi menyelimuti wilayah Sumatera Barat (Sumbar) hingga 23 Oktober 2026. Kondisi kualitas udara diperkirakan baru membaik secara signifikan mulai 24 Oktober 2026 mendatang seiring datangnya potensi hujan yang merata. 

Sebaran asap ini sebagian besar merupakan kiriman dari wilayah tetangga, khususnya Sumatera Selatan yang masih mencatatkan ratusan titik panas (hotspot). Angin yang bertiup dari arah timur-tenggara menuju barat laut hingga utara membawa material kabut asap melintasi kawasan Sumbar. 

Ketua Tim Publikasi dan Diseminasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan bahwa konsentrasi kabut asap di Sumatera Barat belum akan menunjukkan perbaikan berarti dalam dua hari ke depan. 

“Kondisi konsentrasi kabut asap di Sumatera Barat diprakirakan belum mengalami perbaikan signifikan dalam dua hari ke depan,” ujar Yudha kepada Sumbarkita, Rabu (21/10/2026). 

Dampak sebaran kabut asap ini sudah mulai memengaruhi kualitas udara setempat. Berdasarkan data pemantauan Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang pada 20 Oktober 2026, konsentrasi partikel halus PM2.5 sempat melonjak drastis hingga mencapai 64 mikrogram per meter kubik pada pukul 11.00 WIB—masuk dalam kategori Tidak Sehat. 

“Meskipun rata-rata harian PM2.5 masih berada pada kategori sedang (20 mikrogram per meter kubik) dan PM10 dalam kategori baik (37 mikrogram per meter kubik), lonjakan puncak PM2.5 tersebut menunjukkan adanya peningkatan partikel asap di udara yang patut diwaspadai,” ungkap Yudha. 

Selain mendapat ancaman asap kiriman, potensi kebakaran lahan di dalam wilayah Sumbar sendiri tetap perlu diwaspadai. Hasil analisis Fine Fuel Moisture Code (FFMC) mengindikasikan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan bahan bakar permukaan berada pada kategori mudah hingga sangat mudah di sejumlah daerah. 

Sejumlah kawasan yang berada dalam status kewaspadaan tinggi potensi kebakaran lahan meliputi, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Lima Puluh Kota , Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan , Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya dan Kota Sawahlunto.

Harapan pembersihan partikel asap di udara kini bertumpu pada intensitas hujan yang diperkirakan bakal mengguyur wilayah Sumbar dalam beberapa hari mendatang. BMKG pun telah menerbitkan peringatan dini status Waspada terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. 

“Peringatan dini status Waspada hujan sedang hingga lebat sudah kami terbitkan untuk tanggal 23 Oktober di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat,” jelas Yudha. 

Turunnya hujan lebat yang merata tersebut diharapkan mampu meluruhkan polutan asap dan memulihkan Kualitas Udara Ambien di Sumatera Barat mulai 24 Oktober 2026. (**)