PADANG, NUSATIME.ID — Atlet peselancar ombak putri Sumatera Barat, Kya Jo Heuer, sukses menyumbang medali emas bagi kontingen Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Sumbar pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Selancar Ombak 2026 yang berlangsung di Pantai Pererenan, Canggu, Bali, Selasa (20/10/2026).
Kya Jo Heuer tampil impresif dan keluar sebagai yang terbaik pada nomor Shortboard Putri, menaklukkan ombak Canggu sekaligus mengungguli para peselancar tangguh dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Umum PSOI Sumbar, Harry Algamar, yang mendampingi langsung para atlet di Bali, memberikan apresiasi tinggi atas capaian membanggakan tersebut. Menurutnya, performa Kya sejak babak penyisihan hingga final sangat matang dan luar biasa.
“Penampilan Kya Jo Heuer sangat luar biasa. Ia tampil tenang, cerdas membaca karakter ombak, dan mampu mengeksplorasi teknik-teknik manuver yang presisi di atas gelombang Pantai Pererenan,” ujar Harry Algamar saat dihubungi.
Keberhasilan Kya Jo Heuer meraih podium tertinggi di tingkat nasional ini menjadi modal berharga bagi kontingen Sumatera Barat untuk menghadapi kejuaraan bergengsi skala nasional maupun internasional ke depan, khususnya Pekan Olahraga Nasional (PON).

Harry Algamar menegaskan bahwa selancar ombak bukan sekadar olahraga ekstrem, melainkan cabang olahraga yang membutuhkan perpaduan antara stamina fisik, insting alam, penguasaan teknik tinggi, serta mental bertanding yang tangguh.
“Kya adalah atlet muda dengan bakat dan potensi yang sangat luar biasa. Keberhasilannya hari ini menjadi aset besar bagi PSOI Sumbar dalam meretas jalan menuju prestasi puncak di PON mendatang,” tegas Harry.
Lebih lanjut, Harry menjelaskan tantangan dan dinamika pengembangan olahraga selancar ombak di Ranah Minang. Menurutnya, Sumatera Barat memiliki keunggulan geografis yang luar biasa dengan bentang garis pantai dan spot ombak kelas dunia, seperti di Kepulauan Mentawai hingga pesisir daratan Sumbar.
“Selancar ombak ini olahraga yang sangat dinamis karena arena tandingnya adalah alam terbuka yang selalu berubah. Peselancar harus membaca arah angin, pasang surut, hingga jeda gelombang (set wave). Pembinaan usia dini dan jam terbang di kompetisi nasional seperti Kejurnas ini sangat krusial untuk mengasah instinct atlet kita,” pungkas Harry.
Kemenangan Kya Jo Heuer di Bali diharapkan menjadi pemicu semangat bagi para atlet peselancar muda lainnya di Sumatera Barat untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama Ranah Minang di kancah nasional maupun internasional. (**)



Tinggalkan Balasan