- Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menggalakkan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) guna mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan dan pembangunan karakter anak.
- Kehadiran emosional ayah dinilai sangat krusial dalam memberikan rasa aman, menumbuhkan rasa percaya diri anak pada fase transisi sekolah, serta mencegah fenomena fatherless secara psikologis.
- Pemerintah memberikan dukungan regulasi melalui imbauan Kementerian PANRB yang mengizinkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengantar anak pada hari pertama sekolah demi memperkuat ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.
Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si. (Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
BANGSA yang besar dibangun dari keluarga-keluarga yang kuat. Di dalam keluarga yang kuat tumbuh anak-anak yang merasa dicintai, dihargai, dan didampingi. Dari keluarga yang demikian lahir manusia-manusia yang percaya diri, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Oleh karena itu, ketika seorang ayah menggandeng tangan anaknya menuju gerbang sekolah pada hari pertama masuk sekolah, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya keberanian seorang anak menghadapi kelas baru atau melanjutkan pendidikannya pada jenjang selanjutnya. Pada saat yang sama, sedang dibangun fondasi psikologis, emosional, dan sosial yang akan menentukan kualitas generasi Indonesia di masa depan.
Mungkin bagi sebagian orang, mengantar anak ke sekolah hanyalah rutinitas sederhana yang berlangsung beberapa menit, apalagi jika didasarkan hanya untuk alasan keselamatan anak, karena masih kecil. Namun, dalam perspektif ilmu keluarga, momen yang singkat itu merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia.
Di situlah makna sesungguhnya Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang kembali digerakkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) sebagai bagian dari implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Gerakan ini mengajak ayah hadir pada hari pertama sekolah, sebagai usaha membangun kesadaran kolektif bahwa keterlibatan ayah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan keluarga Indonesia.
Hari pertama sekolah merupakan salah satu fase transisi yang paling penting dalam siklus perkembangan anak. Pada hari itu, anak meninggalkan ruang yang selama ini dikenalnya menuju lingkungan baru yang penuh dengan ketidakpastian. Ia akan bertemu guru yang belum dikenalnya, teman-teman baru dengan karakter yang berbeda, aturan yang belum dipahaminya, dan situasi yang menuntut kemampuan beradaptasi.

Tidak mengherankan apabila sebagian anak menunjukkan kecemasan. Ada yang menggenggam erat tangan orang tuanya, ada yang terus menoleh ke belakang, bahkan tidak sedikit yang menangis ketika di sekolah. Artinya ia takut. Dalam situasi seperti inilah kehadiran orang tua, terutama ayah, memperoleh makna yang sangat penting untuk memberikan penguatan bagi anaknya.
Kehadiran ayah menjadi sumber keberanian yang jauh lebih bermakna dibandingkan berbagai nasihat panjang. Bagi anak, kehadiran ayah pada momen tersebut menjadi pesan yang sangat jelas, bahwa anak tidak menghadapi dunia ini sendirian.
Sejak lama, masyarakat Indonesia dibentuk oleh konstruksi sosial yang menempatkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sementara urusan pengasuhan lebih banyak dilekatkan kepada ibu. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga memang merupakan salah satu tanggung jawab utama seorang ayah. Namun, perkembangan ilmu keluarga menunjukkan bahwa fungsi ayah jauh melampaui penyedia nafkah, yaitu ayah juga merupakan pendidik pertama, pelindung, pembangun karakter, penguat identitas, sekaligus sumber rasa aman bagi anak.
Berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan, sosiologi keluarga, dan ilmu pengasuhan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berhubungan dengan perkembangan kognitif anak, kemampuan mengendalikan emosi, keberanian menghadapi tantangan, rasa percaya diri, kemampuan menyelesaikan masalah, hingga ketahanan mental ketika menghadapi tekanan kehidupan.
Anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayah cenderung lebih mampu membangun hubungan sosial yang sehat, memiliki regulasi emosi yang lebih baik, dan menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah. Dengan kata lain, kehadiran ayah tidak sebagai pelengkap dalam keluarga, tetapi merupakan salah satu faktor protektif yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak.
Perkembangan penelitian mutakhir memperlihatkan bahwa kelekatan dengan ayah memiliki kontribusi yang sama pentingnya, meskipun karakter hubungan tersebut sering kali berbeda.
Jika ibu lebih banyak membangun rasa aman melalui kedekatan emosional, ayah sering kali memperkuat keberanian anak untuk mengeksplorasi dunia luar. Ayah menjadi figur yang mendorong anak mencoba hal-hal baru, mengambil tantangan, sekaligus mengajarkan bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Dengan demikian, ketika seorang ayah hadir pada hari pertama sekolah. Ia sedang mengantar anak memasuki tahap kehidupan baru dengan rasa aman dan keyakinan bahwa selalu ada seseorang yang mempercayainya.
Pembangunan keluarga tidak selalu dimulai dari kebijakan yang besar. Sering kali, ketahanan keluarga justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, seperti halnya mengantar anak ke sekolah adalah salah satunya. Momen ini mungkin hanya berlangsung lima belas atau dua puluh menit. Namun, dalam psikologi perkembangan dikenal istilah emotional memory, yaitu pengalaman emosional yang membekas dan menjadi bagian dari pembentukan identitas seseorang.
Banyak orang dewasa yang tidak lagi mengingat pelajaran pertama yang diterimanya di sekolah. Namun, mereka masih mengingat siapa yang menggandeng tangannya ketika pertama kali memasuki ruang kelas. Memori seperti itulah yang membentuk rasa percaya diri dan keamanan psikologis seorang anak.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah fatherless semakin sering diperbincangkan. Sayangnya, istilah tersebut kerap dipahami secara sempit sebagai kondisi ketika anak tumbuh tanpa ayah karena perceraian, kematian, atau sebab lainnya. Padahal, fatherless juga dapat terjadi ketika ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional. Banyak ayah bekerja keras demi keluarga. Mereka berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika anak telah bersiap tidur. Di akhir pekan pun perhatian sering kali tersita oleh pekerjaan atau gawai. Akibatnya, hubungan ayah dan anak menjadi semakin renggang, bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena semakin sedikit ruang untuk membangun percakapan.
Di sinilah GAMAS menjadi momen penting. Gerakan ini mengingatkan bahwa anak tidak hanya membutuhkan ayah yang bekerja untuk keluarga, tetapi juga ayah yang meluangkan waktu untuk hadir bersama keluarga.
Meskipun kita menyadari menyadari bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan didampingi ayah pada hari pertama sekolah. Ada anak yang kehilangan ayah karena meninggal dunia. Ada yang orang tuanya bercerai. Ada pula ayah yang sedang bertugas di luar kota, di daerah perbatasan, di laut, atau bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, semangat GAMAS tidak boleh dipahami secara eksklusif. Esensi gerakan ini bukan terletak pada siapa yang mengantar, melainkan pada siapa yang memastikan anak merasa didampingi. Dalam kondisi tertentu, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, wali, maupun pengasuh yang memiliki kedekatan emosional dapat mengambil peran tersebut. Hal yang paling penting adalah memastikan bahwa tidak ada anak yang merasa menghadapi hari pertamanya di sekolah sendirian.
Kesadaran mengenai pentingnya keterlibatan ayah kini juga semakin memperoleh dukungan dalam kebijakan nasional. Melalui Surat Imbauan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor B/257/M.KT.02/2026, instansi pemerintah diimbau memberikan kesempatan kepada Aparatur Sipil Negara untuk mengantar anak pada hari pertama sekolah sebagai bagian dari penguatan ketahanan keluarga. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan keluarga bukan lagi dipandang sebagai urusan domestik semata. Negara mulai menempatkan keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan Indonesia yang menempatkan kualitas manusia sebagai modal utama menuju Indonesia Emas 2045. (fix)



Tinggalkan Balasan