- Semen Padang FC menggunakan markas sementara di Jakarta, memicu ikatan emosional mendalam bagi Dirigen Spartacks, Fintheo Miranda, yang dibesarkan di kota tersebut.
- Fintheo memiliki rekam jejak fanatisme sepak bola masa kecil di Jakarta Utara sebelum akhirnya mendedikasikan 16 tahun memimpin dukungan untuk klub tanah kelahirannya.
- Momen laga kandang di perantauan ini dimaknai melalui filosofi Minang pai untuk babaliak, disertai harapan agar Kabau Sirah dapat segera kembali berlaga di Ranah Minang.
PADANG, NUSATIME.ID-Bagi seorang perantau, tanah tempat ia dilahirkan dan tanah tempat ia dibesarkan kerap kali berkelindan dalam relung emosi yang dalam. Sepak bola, dengan segala riuh dan gempitanya, menjadi cermin paling jujur yang memantulkan identitas serta perjalanan hidup tersebut. Kisah inilah yang kembali bergetar di benak Fintheo Miranda, Dirigen Spartacks, kelompok suporter setia Semen Padang Football Club (SPFC), ketika perjalanan takdir membawanya kembali mengetuk pintu kenangan lama.
Enam belas tahun lalu, sebuah keputusan besar diambil oleh Fintheo dan rekan-rekannya. Ada panggilan rasa yang membuncah untuk “pulang”, secara emosional dan dedikasi, mendukung klub daerah kelahiran, Semen Padang FC. Sepanjang belasan tahun itu, nyanyian, keringat, dan ketukan irama komando dari Fintheo Miranda tak pernah absen mengawal Kabau Sirah berjuang di belantara sepak bola Indonesia.
Namun, jauh sebelum pita suara Fintheo dihabiskan untuk Semen Padang FC, ada ikatan masa kecil yang tak bisa dihapus dari ingatannya. Jakarta Utara, khususnya Persitara, adalah pelukan pertama yang memperkenalkannya pada fanatisme lapangan hijau.
Tanah rantau itu bukan sekadar persinggahan, di sanalah Fintheo tumbuh, meresapi dinamika tribun, dan dibesarkan oleh riuhnya atmosfer sepak bola ibu kota.
Kini, momen langka dan emosional itu hadir kembali. Untuk pertama kalinya, Semen Padang FC akan melakoni laga dengan ber-home base sementara di tanah rantau tersebut, tanah di mana Fintheo Miranda pernah bertumbuh. Sebuah persilangan takdir yang unik, di mana klub kebanggaan tanah kelahiran datang berlaga di tempat ia dibesarkan.

“Mari kita berjuang bersama-sama, Semen Padang FC. Semoga di setiap laga home maupun away, kita bisa terus mengawal perjuanganmu,” tegas Fintheo penuh haru.
Ada asa yang menyala agar pengungsian sementara ini membawa berkah, sekaligus harapan besar agar tim kebanggaan dapat segera kembali berlaga di Ranah Minang, tanahnya para pejuang.
Perjalanan ini menyunggingkan sebuah filosofi Minang yang begitu mengakar dalam diri Fintheo Miranda, Pai untuk babaliak (pergi untuk kembali). Ke mana pun kaki melangkah dan di stadion mana pun tempat bersorak, kepulangan ke rumah sejati adalah tujuan akhir yang selalu dinanti. (**)



Tinggalkan Balasan