SIKABU, NUSATIME.ID — Keberadaan Stadion Utama Sumatera Barat (Sumbar) yang berdiri megah di kawasan Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, dinilai menyimpan potensi raksasa bagi pendorong roda perekonomian daerah. Kehadiran berbagai kejuaraan olahraga di stadion tersebut terbukti mampu menghidupkan denyut ekonomi masyarakat selingkar kawasan.

Wali Nagari Sikabu, Hidayat, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelaku dan organisasi olahraga yang terus berkomitmen membawa serta menggelar iven sepak bola di Stadion Utama Sumbar.

Menurutnya, kepedulian para penggerak olahraga ini menjadi nafas penting bagi denyut aktivitas masyarakat Nagari Sikabu.

“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi para pelaku olahraga yang masih mau bersedia memboyong iven-iven sepak bola ke Stadion Utama Sumbar. Bagi kami di nagari, setiap iven yang hadir adalah berkah karena langsung menghidupkan suasana dan aktivitas ekonomi warga,” ujar Hidayat di Silabu, Senin (7/9/26).

Sebagai sosok yang dibesarkan di lapangan hijau, yang juga merupakan mantan pemain Persepar Padang Pariaman, Hidayat memahami betul bahwa fungsi stadion tidak sekadar arena bertanding si kulit bundar. Lebih dari itu, infrastruktur olahraga berskala besar adalah mesin penggerak ekonomi kerakyatan jika dikelola dan diselesaikan secara tuntas.

Oleh karena itu, Hidayat menaruh harapan besar kepada pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pusat, agar dapat memprioritaskan dan menuntaskan pembangunan Stadion Utama Sumbar yang hingga kini masih membutuhkan penyelesaian akhir.

“Harapan besar kami tentu pemerintah bisa segera menuntaskan pembangunan stadion ini secara menyeluruh. Penyelesaian fasilitas ini bukan hanya soal megahnya tempat berolahraga, tetapi soal masa depan ekonomi Nagari Sikabu dan Padang Pariaman pada umumnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Penuntasan fisik dan pengoperasian Stadion Utama Sumbar secara optimal diyakini bakal memberikan multiplier effect (efek ganda) yang sangat luas, baik bagi Nagari Sikabu maupun masyarakat setempat.

Dari sisi pemerintahan nagari, potensi Peningkatan Pendapatan Asli Nagari (PAD) terbuka lebar. Pengelolaan kawasan pendukung, retribusi daerah, hingga kemitraan kegiatan di sekitar stadion berpotensi menjadi sumber penerimaan resmi nagari untuk membiayai pembangunan infrastruktur desa serta program kesejahteraan warga.

Tak hanya itu, perputaran ekonomi langsung juga memicu geliat sektor UMKM dan ekonomi kreatif. Setiap kali pertandingan digelar, ratusan pelaku usaha mikro, pedagang kuliner, pedagang eceran, hingga penyedia merchandise dapat merasakan langsung dampak manis dari lonjakan pembeli.

Dampak positif ini secara otomatis berimbas pada pengangkatan taraf ekonomi rumah tangga. Keramaian iven memberi ruang pendapatan instan sekaligus berkelanjutan bagi warga lokal yang terlibat sebagai pengelola parkir, jasa keamanan, pembersihan area, hingga penyedia tempat singgah.

Lebih jauh lagi, kondisi ini mendorong tumbuhnya ekosistem bisnis pendukung. Kedatangan tim, official, serta ribuan penonton dari luar daerah secara otomatis memicu lonjakan kebutuhan transportasi lokal, penginapan, hingga jasa logistik yang menguntungkan ekosistem bisnis nagari secara menyeluruh.

Bagi Nagari Sikabu, penuntasan Stadion Utama Sumbar adalah investasi jangka panjang. Jika stadion beroperasi secara penuh dan rutin menggelar agenda olahraga tingkat nasional hingga internasional, Nagari Sikabu siap bertransformasi dari sekadar wilayah pemukiman menjadi episentrum baru pertumbuhan ekonomi dan pariwisata berbasis olahraga di Sumatera Barat. (sal)