Rangkuman Utama
  • Manajemen Semen Padang FC resmi menjatuhkan sanksi penutupan tribun bagi kelompok suporter Spartacks menyusul aksi protes dan penggedoran bus tim seusai laga kontra PSMS Medan.
  • Dirigen Spartacks menegaskan bahwa aksi protes tersebut merupakan luapan kekecewaan sekaligus wujud kecintaan terhadap tim atas performa pemain yang dinilai minim daya juang.
  • Keputusan manajemen memicu reaksi kritis dari sejumlah pendukung yang mengkhawatirkan berkurangnya dukungan moril saat tim berkandang di luar markas, sementara Spartacks kini masih berkoordinasi secara internal.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, NUSATIME.ID – Manajemen Semen Padang FC resmi menjatuhkan sanksi berupa penutupan tribun bagi kelompok suporter Spartacks pada pertandingan kandang mendatang hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan tersebut tertuang dalam surat resmi beromor 489/KRE/KSSP/10.2026 tertanggal 21 Oktober 2026 yang ditandatangani oleh General Manager PT Kabau Sirah Semen Padang, Denny Shulton. 

Langkah tegas manajemen ini diambil menyusul insiden yang terjadi seusai laga antara Semen Padang FC melawan PSMS Medan pada 17 Oktober 2026 lalu. Menurut penjelasan resmi manajemen, para suporter Spartacks membalikkan badan dan meninggalkan tribun saat pemain menghampiri untuk memberikan apresiasi. Selain itu, manajemen mencatat adanya tindakan oknum suporter yang menggedor bus tim sehingga dinilai membahayakan keselamatan pemain dan ofisial. 

“Kritik terhadap tim hendaknya dilakukan dengan cara yang tertib, santun, dan tidak membahayakan keselamatan pihak mana pun. Pembukaan kembali tribun akan dipertimbangkan setelah adanya komitmen jelas untuk menjaga ketertiban serta menghormati pemain, ofisial, dan kebijakan manajemen,” tulis Denny Shulton dalam surat pemberitahuan tersebut. 

Keputusan penutupan tribun ini memicu kekecewaan mendalam dari kelompok suporter Spartacks. Dirigen Spartacks, Fintheo Miranda, menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan seusai laga melawan PSMS merupakan bentuk protes atas performa tim di lapangan.

“Ini hanya bentuk kekecewaan. Apa yang dilakukan Spartacks saat laga melawan PSMS adalah bentuk protes, karena selama pertandingan para pemain tidak menunjukkan nilai juang. Protes ini adalah bentuk kecintaan kami terhadap Semen Padang,” ujar Fintheo saat dihubungi, Rabu (21/10/2026). 

Keputusan manajemen Kabau Sirah tersebut juga mendapat tanggapan beragam dari para pendukung Semen Padang di Ranah Minang. Lery, salah seorang pendukung setia Semen Padang di Padang, menilai sanksi ini kurang tepat mengingat tim saat ini sedang berlaga jauh dari markas utama. 

“Ini seharusnya tidak dilakukan oleh manajemen. Tim lagi berkandang di rantau, Spartacks tetap hadir mendukung. Namun dengan adanya sanksi ini, tentu dukungan akan berkurang. Berbeda jika Semen Padang berkandang di Sumbar, keputusan seperti ini mungkin bisa dipahami,” ungkap Lery, Rabu (21/10/2026). 

Lery menambahkan, berdasarkan informasi dari anggota Spartacks, aksi protes yang dilayangkan kepada para pemain masih dalam batas wajar dan tidak mengarah pada tindakan anarkis. 

“Harusnya manajemen bisa menciptakan suasana yang sejuk di tengah hasil tim yang belum positif. Jika sikap seperti ini terus dilakukan, dikhawatirkan akan memunculkan sikap kurang simpatik dari para pendukung,” pungkasnya. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Spartacks masih melakukan koordinasi internal guna merespons sanksi serta imbauan evaluasi dari manajemen PT Kabau Sirah Semen Padang. (**)