Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)
“Menang salah, kalah salah.”
Frasa bernada getir ini kini menjelma menjadi chant sunyi yang paling sering bergemuruh di batin pencinta sepak bola Sumatra Barat. Kalimat itu bukan sekadar keluh kesah penonton di tribun atau perbincangan hangating di warung kopi. Ia adalah alarm darurat sebuah manifestasi dari keretakan batin yang kian menganga antara Semen Padang FC dan publik yang selama ini membesarkannya.
Ada apa dengan Semen Padang FC hari ini? Pertanyaan mendasar ini menuntut kejujuran moral untuk dibedah.
Sebab, sejarah mencatat bahwa Kabau Sirah dulunya adalah sebuah aliran cinta tanpa syarat. Di masa lalu, rumusnya sederhana dan tulus, kalah didukung penuh dengan rangkulan, menang dirayakan bersama dengan euforia. Hari ini, ikatan suci itu jungkir balik. Apapun hasil di lapangan, semuanya berbuah serba salah.
Dalam etika komunikasi publik dan sosiologi olahraga, ketika tim kebanggaan berada di posisi di mana suporter merasa salah dalam segala situasi, itu adalah indikasi kuat hilangnya legitimasi emosional manajemen di mata publik.

Ketika tim menang, kemenangan tersebut sering kali diperlakukan sebagai “milik segelintir orang” di ring internal manajemen, tanpa apresiasi yang tulus terhadap pengorbanan moral suporter yang mengawal dari menit pertama hingga akhir. Seolah-olah kemenangan itu adalah hasil kerja privat, bukan buah dari doa jutaan masyarakat Ranah Minang.
Sebaliknya, ketika tim kalah, reaksi yang muncul dari manajemen kerap defensif, elitis, dan tertutup, alih-alih merangkul kritik sebagai bentuk kepedulian. Suporter tidak lagi diberikan ruang untuk merasa memiliki (sense of belonging). Kritik konstruktif dari pencinta sepak bola justru dianggap sebagai gangguan, bukan sebagai bentuk cinta kasih terhadap klub yang didirikan atas keringat dan kebanggaan urang awak.
Jika ditarik garis historis, Semen Padang FC pada era terdahulu dikelola dengan pendekatan kekeluargaan yang erat. Memang, pengurus saat itu berasal dari internal korporasi PT Semen Padang. Namun, ada jembatan kultural yang kuat yang menghubungkan manajemen dengan masyarakat, pencinta bola, dan suporter fanatik. Kedekatan emosional itu hidup dalam keseharian, di mana klub dirasakan benar-benar sebagai milik bersama.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Manajemen terkesan berjarak, berjalan di atas poros birokratis yang sempit, dan hanya berputar di lingkaran segelintir orang saja. Klub kebanggaan Ranah Minang ini seolah mengalami privatisasi secara de facto, dikelola bak milik pribadi, di mana aspirasi publik luar dianggap angin lalu.
Ketika publik mulai bersuara dan memberikan masukan korektif atas kemerosotan performa atau kebijakan klub, seringkali muncul dalih klasik dari pihak internal. “Kalau diberi tahu, apa bisa membiayai klub ini?”
Pertanyaan retoris bernada arogansi finansial ini sangat mencederai prinsip dasar klub sepak bola profesional yang lahir dari rahim korporasi publik dan dukungan kultural masyarakat. Sepak bola bukan sekadar urusan siapa yang memegang dompet terbesar, melainkan soal mandat sosial dan kehormatan kolektif.
Pertanyaannya kemudian, benarkah hanya ada satu orang atau segelintir gelintir orang saja di Ranah Minang ini yang mampu mencari dana dan membiayai Semen Padang FC? Sumatra Barat adalah tanah yang melahirkan banyak tokoh pergerakan, pengusaha sukses di rantau, korporasi-korporasi besar, dan masyarakat yang memiliki kepedulian luar biasa tinggi terhadap marwah daerah.
Pandangan bahwa pengelolaan finansial klub hanya bisa dimonopoli oleh satu pihak adalah bentuk pengerdilan terhadap potensi besar Ranah Minang. Selama ini, pintu partisipasi publik, transparansi manajerial, dan pelibatan investor lokal kerap tertutup rapat karena tata kelola yang tertutup dan eksklusif.
Semen Padang FC bukan sekadar perusahaan terbatas yang mencari laba rugi di atas rumput hijau. Ia adalah identitas budaya, simbol harga diri, dan pemersatu masyarakat Minangkabau di manapun berada.
Sudah saatnya manajemen melakukan refleksi fundamental. Kembalikan marwah Kabau Sirahke pangkuan masyarakatnya. Buka ruang dialog yang sehat, libatkan suporter sebagai mitra strategis, dan buktikan bahwa kejayaan klub ini dibangun atas dasar kebersamaan, bukan hegemoni segelintir golongan. Sebab, sepak bola tanpa cinta dari pendukung setianya hanyalah tontonan hampa tanpa jiwa.(**)



Tinggalkan Balasan