Rangkuman Utama
  • Tahap awal rekonstruksi total Stadion GOR Haji Agus Salim Padang senilai Rp340 miliar memicu kekhawatiran ratusan pedagang kaki lima (PKL) karena berdampak langsung pada pembongkaran lapak dan kelangsungan ekonomi mereka.
  • Para pedagang mengkritik pemerintah daerah karena dinilai melakukan pengosongan kawasan tanpa memberikan skema relokasi yang matang maupun kompensasi yang jelas bagi lebih dari 200 pelaku usaha yang terdampak.
  • Demi menyiasati penurunan omzet yang tajam, sejumlah pedagang terpaksa kembali berjualan secara mandiri di area trotoar di luar portal kawasan stadion meskipun proyek rekonstruksi masih terus berlangsung.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG – Rekonstruksi total Stadion Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim di Kota Padang memasuki tahap awal. Proyek senilai Rp340 miliar yang digadang-gadang menjadi tonggak modernisasi infrastruktur olahraga Sumatera Barat itu diharapkan menghadirkan stadion yang lebih representatif.

Namun di balik rencana besar tersebut, tersimpan kegelisahan ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang selama bertahun-tahun menggantungkan mata pencarian di kawasan GOR Haji Agus Salim.

Bagi mereka, pembongkaran kawasan bukan sekadar perubahan wajah stadion, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga.

Selama puluhan tahun, kawasan GOR Haji Agus Salim bukan hanya menjadi pusat olahraga masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai salah satu sentra kuliner terbesar di Kota Padang.

Kini, aktivitas ekonomi itu perlahan meredup seiring dimulainya proses pembongkaran lapak sebagai bagian dari tahapan rekonstruksi stadion.

30 Tahun Berjualan, Kini Harus Memulai Lagi dari Nol

Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Andri, penjual bakso asal Solo, Jawa Tengah.

Selama 30 tahun merantau di Padang, ia membangun usahanya di kawasan GOR, mulai dari masih lajang hingga kini telah berkeluarga.

Saat ditemui di sela-sela membongkar lapaknya, Andri mengaku tidak memiliki pilihan selain mengikuti kebijakan pemerintah.

“Sekarang tentu harus menerima saja, soalnya permintaan dari yang berwenang,” ujarnya.

Meski pasrah, ia mengaku cemas harus memulai usaha dari awal di lokasi baru yang belum memiliki pelanggan tetap.

“Di sini saya sudah berjualan dari harga bakso Rp400 sampai sekarang Rp13.000. Omzet harian biasanya bisa mencapai Rp1 juta. Sekarang harus menyesuaikan lagi,” tuturnya.

Pedagang Merasa Diabaikan

Kritik terhadap proses penataan disampaikan Koordinator Pedagang GOR Haji Agus Salim, Ronaldi Putrawan.

Menurutnya, para pedagang pada prinsipnya mendukung pembangunan stadion. Namun, mereka menilai pemerintah kurang memperhatikan nasib para pelaku usaha kecil yang selama ini menghidupkan kawasan tersebut.

Ronaldi menyebut sedikitnya lebih dari 200 pedagang serta puluhan sekretariat cabang olahraga terdampak langsung oleh proyek rekonstruksi.

Ia menilai sosialisasi yang dilakukan pemerintah hanya sebatas penyampaian surat pembongkaran tanpa dibarengi pembahasan solusi yang jelas.

Padahal selama ini para pedagang rutin membayar biaya kebersihan sekitar Rp10 ribu per hari kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Pemuda dan Olahraga.

“Kami diabaikan saja seperti ini. Setelah sosialisasi rencana pembangunan, kami langsung ditindak tanpa kompensasi. Usaha ini adalah fondasi ekonomi untuk menghidupi keluarga kami,” tegas Ronaldi.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lain bernama Alan.

Ia menilai proses pengosongan kawasan dilakukan tanpa skema relokasi yang matang, padahal sebelumnya kawasan tersebut sempat direncanakan menjadi pusat kuliner Kota Padang.

Menurutnya, hanya 48 kelompok pedagang yang memperoleh tempat berjualan di luar kawasan rekonstruksi, sementara ratusan pedagang lainnya masih belum mendapatkan kepastian.

Sempat Ditertibkan, Pedagang Kembali Berjualan

Di tengah proses pembongkaran stadion yang masih berlangsung, sejumlah PKL kembali membuka lapak di trotoar sekitar GOR Haji Agus Salim.

Padahal sebelumnya kawasan tersebut telah ditertibkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan pedagang diminta menghentikan aktivitas berjualan.

Salah seorang pedagang jus buah, Intan, mengaku sudah kembali berjualan sekitar dua pekan terakhir.

Menurutnya, Dinas Pemuda dan Olahraga memperbolehkan pedagang berjualan selama berada di luar portal kawasan stadion.

“Kami diberitahu boleh berjualan, asalkan di luar portal kawasan GOR Haji Agus Salim,” katanya, Kamis (8/7/2026).

Intan mengaku sempat memindahkan usahanya ke depan SMA Negeri 2 Padang setelah penertiban pada pertengahan Juni.

Namun lokasi baru tersebut tidak mampu memberikan jumlah pembeli seperti saat berjualan di sekitar GOR.

“Saya mulai jualan jus di sini sejak awal 2024. Di kawasan GOR pembelinya lebih ramai karena banyak orang berolahraga dan beraktivitas. Makanya saya ingin tetap bertahan jualan di sini,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, sejak kembali berjualan di luar kawasan stadion, para pedagang tidak lagi dikenakan biaya kebersihan yang sebelumnya dipungut sekitar Rp10 ribu per hari.

Omzet Turun, Pedagang Terpaksa Buka Cabang

Kondisi serupa dialami pedagang dimsum, Putri.

Ia mengaku penjualannya menurun setelah berpindah lokasi sehingga memutuskan membuka cabang usaha di tempat lain demi menjaga pendapatan.

“Di sini pembelinya memang lebih banyak. Setelah ditertibkan penjualan menurun, jadi saya buka cabang di tempat lain supaya usaha tetap jalan,” katanya.

Meski sebagian pedagang telah kembali berjualan di sekitar trotoar GOR Haji Agus Salim, proses pembongkaran sejumlah fasilitas stadion sebagai bagian dari tahapan rekonstruksi masih terus berlangsung.

Di balik proyek modernisasi stadion senilai Rp340 miliar itu, para pedagang kini berharap pembangunan dapat berjalan beriringan dengan kepastian terhadap keberlangsungan usaha mereka yang selama puluhan tahun menjadi denyut ekonomi di kawasan GOR Haji Agus Salim. (fix)