PADANG, NUSATIME.ID — Pernyataan jajaran manajemen Semen Padang FC dalam perbincangan di kanal Podcast Classy mendadak menuai sorotan hangat dari kalangan pencinta dan pemerhati sepak bola Sumatera Barat. Dalam podcast tersebut, Manajer Braditi Moulevey bersama Asisten Manajer Wahyu Hidayat memberikan penjelasan terkait komposisi skuad Kabau Sirah yang berlaga musim ini.

Manajemen mengklarifikasi proses rekrutmen 35 pemain yang resmi terdaftar. Pihaknya menegaskan bahwa seluruh urusan teknis dan pemilihan pemain sepenuhnya merupakan wewenang serta rekomendasi dari tim kepelatihan terdahulu, tanpa ada intervensi maupun titipan pemain dari pihak manajemen.

“Seluruh ranah teknis kami serahkan kepada tim kepelatihan. Perekrutan pemain murni pilihan skuad pelatih, tidak ada campur tangan manajemen,” tegas Asisten Manajer Wahyu Hidayat.

Namun, sikap manajemen yang dinilai melempar tanggung jawab perekrutan pemain sepenuhnya kepada pelatih lama mendulang kekecewaan dan tanggapan kritis dari para pendukung serta pemerhati Kabau Sirah.

Pemerhati Sepak Bola Sumbar, Zul Udo Chaniago, menilai bahwa jika memang seluruh pilihan pemain diserahkan penuh kepada pelatih tanpa intervensi dan ditopang anggaran yang memadai, strategi di lapangan memang menjadi tanggung jawab teknis pelatih. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa narasi yang beredar saat ini baru berasal dari satu pihak.

“Ini baru keterangan sepihak yang kita dengar. Kita tentu ingin pelatih yang lama juga bisa memberikan tanggapan agar informasinya berimbang dan tidak memicu opini liar,” ujar Zul Udo.

Lebih lanjut, Zul Udo menekankan bahwa secara administratif dan operasional, manajemen tidak bisa lepas tangan begitu saja.

“Secara tersirat, pemilihan pemain memang hak pelatih, tetapi tidak mungkin pelatih mengambil keputusan tanpa persetujuan manajemen. Manajemen tentu tahu kualitas pemain yang disodorkan. Jangan asal terima. Kan bisa dinilai dari proses persiapan dan seleksi. Kalau pemain dirasa tidak layak, tentu tidak perlu dikontrak, karena yang mengeluarkan dana dan membayar gaji adalah manajemen,” tambahnya.

Pandangan senada disampaikan oleh pengamat sepak bola Hendra. Ia meminta manajemen Semen Padang FC untuk berintrospeksi dan tidak melimpahkan seluruh beban kesalahan atas performa tim kepada sosok pelatih semata. Menurutnya, kegagalan tim adalah bentuk tanggung jawab bersama.

“Manajemen harus introspeksi, kegagalan tim jangan sepenuhnya menyalahkan pelatih. Kalau dibalikkan, siapa yang mengikat pelatih? Tentu manajemen. Kegagalan Semen Padang adalah kesalahan kolektif, dari awal mereka sudah tahu risikonya,” tegas Hendra.

Hendra juga menyentil rasa percaya diri berlebih dari manajemen di awal musim saat merekrut pemain berharga mahal yang digadang-gadang mampu membawa Semen Padang bersaing di papan atas.

“Dari awal menetapkan pelatih dan pemain, manajemen harus paham risikonya. Jangan hanya saat sukses disebut itu kerja manajemen, tetapi begitu gagal, itu disebut kesalahan pelatih dalam merekrut pemain. Kerja sebuah tim itu kolektif, jadi gagal satu, gagal seluruhnya. Apalagi dari awal manajemen sangat percaya diri. Kenapa setelah berjalan dan hasil tidak memuaskan, langsung menyalahkan pelatih?” pungkas Hendra.

Di sisi lain, mantan pelatih Timnas Indonesia, Nil Maizar, yang menjadi figur utama yang disudutkan atas komposisi skuad awal musim ini, belum memberikan komentar panjang. Namun, melalui unggahan terbarunya di media sosial, pilar kepelatihan nasional tersebut menuliskan kalimat reflektif yang sarat makna.

“Sepak bola punya caranya sendiri untuk menguji setiap keputusan. Sepak bola akan memperlihatkan mana yang benar-benar dibangun dengan pemahaman, dan mana yang sekadar berangkat dari keyakinan.”

“Dan rumah akan selalu menjadi tempat perlindungan teraman saya.”

Dinamika ini mencerminkan harapan besar masyarakat dan suporter agar manajemen serta seluruh elemen tim dapat duduk bersama, berintrospeksi, dan fokus membawa Semen Padang FC bangkit memperbaiki performa di kompetisi ketimbang saling menyalahkan di ruang publik. (**)