PADANG PANJANG, NUSATIME.ID— Arus informasi digital dan dinamika media sosial membawa tantangan baru bagi ketahanan ideologi serta etika komunikasi publik di kalangan generasi muda, tidak terkecuali para santri di pesantren.

Menanggapi fenomena tersebut, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang menggelar forum pembinaan wawasan kebangsaan dan edukasi literasi digital bersama Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat di Aula Zainuddin Labay, Padang Panjang.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumbar, Brigjen Pol. Solihin, menilai ketahanan moral berbasis pemahaman keagamaan harus berjalan searah dengan kecakapan dalam memilah informasi di ruang siber. Menurutnya, keberadaan hoaks, ujaran kebencian, serta polarisasi informasi berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan jika tidak diimbangi dengan nalar kritis.

“Santri hari ini tidak boleh hanya berhenti pada penguasaan literasi keagamaan. Di era keterbukaan informasi, kemampuan menyaring berita, menjaga etika digital, dan membumikan nilai-nilai Pancasila menjadi syarat mutlak dalam merawat keutuhan NKRI,” ujar Brigjen Pol. Solihin.

Ia juga menambahkan bahwa ruang digital seharusnya diisi oleh narasi-narasi konstruktif, edukatif, dan menyejukkan. Kehadiran lembaga pendidikan Islam bernilai sejarah seperti Diniyyah Puteri dianggap strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Penyelenggaraan pembinaan ini menjadi bagian dari refleksi peringatan Hari Santri 2026, yang mendorong reposisi peran santri bukan sekadar penjaga tradisi keagamaan, melainkan juga aktor aktif dalam menjaga ruang publik digital yang sehat dan berkeadilan. (**)