PADANG, NUSATIME.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan data pengamatan hotspot, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta analisis kualitas udara di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk periode 8 hingga 10 Oktober 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan paparan kabut asap kiriman.
Berdasarkan hasil pemantauan satelit (Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20) pada 7 Oktober 2026, terdeteksi dua titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang yang terkonsentrasi di wilayah selatan Sumbar, tepatnya di Kabupaten Dharmasraya. Meski tidak ditemukan titik panas tingkat tinggi di Sumbar, tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah (indeks Fine Fuel Moisture Code/FFMC) terpantau berada pada kategori Mudah hingga Sangat Mudah. Kondisi ini terutama melingkupi wilayah Kepulauan Mentawai serta sebagian besar bagian timur Sumbar, seperti Lima Puluh Kota, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sijunjung, dan Dharmasraya.
Selain ancaman karhutla lokal, wilayah Sumatera Barat juga menghadapi peningkatan konsentrasi asap akibat transmisi dari provinsi tetangga. Berdasarkan citra satelit Himawari-9, pergerakan angin yang umumnya bertiup dari arah Selatan hingga Tenggara menuju Barat Laut membawa sebaran asap dari daerah dengan aktivitas hotspot masif seperti Sumatera Selatan (terdeteksi 305 titik panas tinggi) dan Jambi menuju wilayah Sumbar.
Dampak dari pergerakan asap ini tercatat langsung pada pengukuran Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) BMKG Bukit Kototabang per 7 Oktober 2026. Konsentrasi rata-rata partikulat debu halus (PM 2.5) mencapai 60 mu g/m3, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Nilai maksimum PM 2.5 sempat melonjak hingga 101 mu g/m3 pada pagi hari (pukul 08.00 WIB). Sementara itu, partikulat PM 10 mencatatkan nilai rata-rata 71 mu g/m3 dengan angka tertinggi 108 mu g/m3 (kategori SEDANG).
“Secara umum terjadi peningkatan konsentrasi partikulat dibanding hari sebelumnya akibat konsistensi aktivitas titik panas di wilayah sekitar dan arah angin yang mengarah ke Sumbar,” tulis laporan GAW Bukit Kototabang. U

BMKG memprakirakan potensi gangguan kabut asap masih akan berlangsung pada 8 hingga 9 Oktober 2026 seiring dengan intensitas curah hujan yang belum signifikan di sejumlah wilayah. Namun, kondisi kualitas udara diprediksi mulai membaik pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Hal ini ditunjang oleh potensi peningkatan curah hujan. BMKG Minangkabau telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang diperkirakan akan mengguyur secara lebih merata. Wilayah yang diprediksi mengalami hujan lebat pada 10 Oktober mencakup Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, Kabupaten Solok, Solok Selatan, hingga Dharmasraya.
Menyikapi perkembangan dinamika cuaca dan kualitas udara tersebut, BMKG mengimbau beberapa langkah antisipasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat umum.
Masyarakat diminta secara tegas untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah dalam bentuk apa pun, terutama di daerah berpola kering. Mengingat tingginya tingkat PM yang berisiko bagi kesehatan respirasi, warga yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker. Anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat penyakit pernapasan/asma diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah hingga kondisi udara membaik. (**)



Tinggalkan Balasan