NUSATIME.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tidak hanya memicu ancaman kelestarian lingkungan di tingkat nasional.

Tingginya volume asap dan polutan partikulat yang tertiup angin kini bergerak melintasi batas teritorial, sehingga memperburuk kualitas udara di berbagai negara tetangga.

Peta pemantauan terbaru milik Meteorological Service Singapore yang dirilis pada Jumat (16/10/2026) mencatat keberadaan paparan kabut asap dengan intensitas sedang hingga pekat di sejumlah titik. Sebaran tersebut terdeteksi menyelimuti wilayah Kalimantan, Semenanjung Malaysia, bagian barat Sarawak, hingga kawasan selatan Thailand.

Kondisi sebaran polusi udara lintas negara ini dikenal secara internasional dengan istilah transboundary haze pollution(pencemaran kabut asap lintas batas).

Laporan dari Unit Komunikasi Awam Sarawak (UKAS) yang mengutip hasil pantauan satelit ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mengonfirmasi pergerakan tersebut. Terpantau kumpulan titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat menghasilkan kepulan asap yang bergerak ke arah utara hingga menembus bagian barat Sarawak, Malaysia.

Pemerintah Singapura melalui National Environment Agency (NEA) dalam pembaruan data per 14 Oktober 2026 juga melaporkan lonjakan konsentrasi PM2.5 per jam yang berada di kisaran 139–251 mikrogram per meter kubik. Selain itu, Indeks Standar Pencemar Udara (PSI) 24 jam tercatat di angka 118–168, yang tergolong dalam kategori tidak sehat.

Pihak NEA menambahkan bahwa kombinasi cuaca kering dan pergerakan angin berpotensi terus membawa gumpalan asap dari area Sumatra serta Kalimantan menuju kawasan Singapura.

Fenomena serupa turut menyasar Brunei Darussalam sejak akhir Agustus 2026. Otoritas Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Kerja Brunei (SHENA) pada 5 September 2026 mengeluarkan pernyataan resmi bersama lintas otoritas lingkungan, kesehatan, dan meteorologi yang membenarkan bahwa wilayah mereka tengah dilanda kondisi berkabut.

Tidak hanya negara tetangga terdekat, sebaran polusi ini juga menjangkau wilayah Filipina. Keterangan dari Philippine Information Agency (PIA) per 3 September 2026 mengungkapkan bahwa asap kebakaran musiman dari Indonesia telah sampai ke beberapa kawasan di Filipina, termasuk Metro Manila, akibat dorongan angin monsun barat daya atau habagat.

Sementara itu, pemetaan regional Meteorological Service Singapore per 15 Oktober 2026 menegaskan keberadaan kabut asap tingkat sedang hingga pekat di wilayah selatan Thailand. Temuan ini membuktikan betapa meluasnya jangkauan dampak karhutla di kawasan Asia Tenggara, meskipun tingkat paparan dan intensitasnya bervariasi di tiap negara.

Pergerakan asap karhutla yang sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin membuktikan bahwa dampak buruk pencemaran udara tidak pernah berhenti di titik awal kemunculan api.