Rangkuman Utama
  • Paparan partikel toksik PM2,5 dan PM10 dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kesehatan saluran pernapasan serta berisiko memicu ISPA hingga memperburuk penyakit paru kronis.
  • Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena memiliki frekuensi pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa sementara sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk membatasi aktivitas luar ruangan bagi anak dan memfasilitasi penggunaan masker yang sesuai guna meminimalkan paparan asap berbahaya.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

NUSATIME.ID – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan pernapasan anak-anak. Partikel halus yang terkandung dalam asap berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, memicu infeksi, hingga memperburuk penyakit paru yang telah diderita sebelumnya.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K), menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel berukuran kecil, termasuk PM10 dan PM2,5, yang dapat masuk ke saluran pernapasan bagian bawah.

Dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Jumat, dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa partikel dalam asap karhutla juga mengandung zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

“Kimianya berbeda dengan PM2,5 yang dihasilkan oleh bukan kebakaran hutan. Jadi akibat kebakaran hutan, PM2,5 kandungannya lebih toksik dibandingkan dari bahan yang lain dan ini akan mengiritasi saluran pernapasan,” jelasnya.

Menurut Fifi, paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kekambuhan asma, bronkiektasis, hingga memperburuk penyakit paru kronis.

Selain itu, partikel berbahaya dalam asap juga dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada saluran pernapasan, yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan seseorang apabila terpapar dalam waktu lama.

Anak-anak dengan penyakit jantung bawaan serta riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampak buruk paparan asap karhutla dibandingkan anak-anak tanpa kondisi tersebut.

Fifi menjelaskan, anak-anak memiliki frekuensi pernapasan lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini membuat mereka berpotensi menghirup lebih banyak udara yang tercemar dalam periode waktu tertentu, sementara sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

Ia menyebutkan bahwa frekuensi napas normal berbeda sesuai usia. Pada bayi, frekuensi napas dapat mencapai kurang dari 60 kali per menit, sedangkan anak usia dua bulan hingga satu tahun umumnya bernapas kurang dari 50 kali per menit. Untuk anak berusia satu hingga lima tahun, frekuensi napas normal umumnya kurang dari 40 kali per menit.

Sebagai perbandingan, orang dewasa umumnya memiliki frekuensi napas normal sekitar 12 hingga 20 kali per menit.

“Kita lihat (anak) ini akan lebih sering dia bernapas dan sistem imunnya masih berkembang, sehingga pernapasan ini akan lebih banyak yang terhirup ke dalam saluran pernapasan,” kata Fifi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari paparan asap ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Orang tua di wilayah terdampak disarankan membatasi aktivitas anak di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Penggunaan masker yang sesuai juga dapat membantu mengurangi paparan partikel, meskipun efektivitasnya bergantung pada jenis masker dan cara pemakaiannya. Apabila memungkinkan, anak-anak sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih selama kondisi berasap berlangsung.

Upaya perlindungan tersebut penting dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, khususnya pada bayi, anak-anak dengan penyakit penyerta, dan mereka yang tinggal di kawasan yang terdampak karhutla.