NUSATIME.ID – Pemerintah terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di empat provinsi terdampak.
Selain menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl), upaya tersebut kini memanfaatkan dry ice untuk membantu mengurangi gangguan asap dan mendukung pembentukan awan hujan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, penggunaan dry ice dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk membantu membuka peluang masuknya sinar matahari dan memicu terbentuknya benih awan hujan sebelum dilanjutkan dengan penyemaian NaCl melalui OMC.
“Sekarang kita coba pakai dry ice untuk memecah asap sehingga matahari bisa sedikit masuk sebagai pengungkit munculnya benih awan hujan. Baru dihantam pakai OMC NaCl. Alhamdulillah di beberapa kabupaten dilaporkan mulai turun hujan,” ujar Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa.
Menurut Prasetyo, pelaksanaan OMC saat ini difokuskan di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Setiap wilayah menjalankan operasi dengan jumlah sorti dan bahan semai yang disesuaikan dengan kegiatan penanganan di lapangan.

Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, kegiatan OMC telah berlangsung sejak 16 Oktober 2026. Hingga 20 Oktober 2026, operasi tersebut tercatat telah dilaksanakan sebanyak delapan sorti dengan menggunakan 1.600 kilogram NaCl dan 4.000 kilogram bahan semai dry ice.
Dukungan operasi juga dilakukan dari Posko Lampung untuk mengantisipasi kendala jarak pandang di Palembang. Posko tersebut mengoperasikan OMC menggunakan dry ice pada 15–18 Oktober dengan total enam sorti dan penggunaan 4.800 kilogram dry ice.
Hasil positif dilaporkan terlihat di Sumatera Selatan melalui penurunan konsentrasi PM2.5 serta peningkatan jarak pandang (visibility).
OMC di Kalimantan Tengah Hasilkan Hujan
Di Kalimantan Tengah, operasi modifikasi cuaca telah berjalan sejak 26 Agustus 2026. Hingga periode pelaporan, sebanyak 48 sorti telah dilakukan dengan total penggunaan 43.800 kilogram bahan semai NaCl.
Volume curah hujan yang dihasilkan selama pelaksanaan kegiatan tersebut mencapai 67,45 juta meter kubik.
Dukungan tambahan juga diberikan melalui posko bantuan dari Kalimantan Selatan untuk mengantisipasi persoalan jarak pandang di Kalimantan Tengah. Operasi bantuan yang dimulai pada 18 Oktober itu telah dilaksanakan sebanyak dua sorti dengan penggunaan 800 kilogram dry ice dan 800 kilogram NaCl.
Berdasarkan laporan dari lapangan, hujan telah terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur.
Kalimantan Selatan Catat Volume Hujan 222,67 Juta Meter Kubik
Sementara itu, OMC di Kalimantan Selatan dimulai pada 10 Oktober 2026. Hingga periode pelaporan, sebanyak 23 sorti telah dilaksanakan dengan total penggunaan 23.000 kilogram bahan semai NaCl.
Dalam pelaksanaannya, Posko Kalimantan Selatan mengerahkan dua unit armada pesawat. Total volume curah hujan yang dihasilkan selama kegiatan OMC tercatat mencapai 222,67 juta meter kubik.
Laporan hujan juga diterima dari sejumlah daerah, yakni Kabupaten Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala.
Kalimantan Barat Laksanakan 107 Sorti OMC
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah sorti OMC terbanyak di antara data yang dilaporkan. Sejak 22 Agustus 2026, operasi telah dilaksanakan sebanyak 107 sorti dengan total penggunaan 98.800 kilogram bahan semai NaCl.
Volume curah hujan yang dihasilkan selama kegiatan berlangsung mencapai 471,2 juta meter kubik.
Berdasarkan laporan kejadian hujan pada 19 Oktober 2026, hujan terjadi di Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Bengkayang, Kapuas Hulu, Ketapang, serta Kota Singkawang dan Pontianak.
Prasetyo menegaskan bahwa berbagai upaya terus dilakukan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan melalui langkah-langkah yang telah dijalankan pemerintah.
“Kita semua berusaha sekeras kerasnya, semua dilakukan,” kata Prasetyo.



Tinggalkan Balasan