Secangkir Kopi, Sejuta Kenangan
Nostalgia Marlis dan Andi Rachman: Dari ARDIN hingga Pengabdian untuk Negeri
PEKANBARU, 17 Juli 2026 — Pagi itu, suasana sebuah warung kopi di Kota Pekanbaru terasa begitu hangat. Bukan semata karena aroma kopi yang baru diseduh, melainkan karena pertemuan dua sahabat lama yang kembali dipersatukan oleh kenangan dan perjalanan panjang kehidupan.
Drs. H. Marlis, MM, C.Med bertemu dengan Arsyad Juliandi Rachman atau yang lebih dikenal sebagai Andi Rachman, mantan Gubernur Riau. Pertemuan sederhana itu berubah menjadi ruang nostalgia yang membawa keduanya kembali ke masa ketika sama-sama aktif membangun dunia usaha nasional melalui organisasi.
Puluhan tahun silam, Marlis dipercaya sebagai Ketua ARDIN (Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia) Sumatera Barat, sementara Andi Rachman memimpin ARDIN Riau. Dari organisasi inilah keduanya banyak berdiskusi, bertukar gagasan, dan memperjuangkan tumbuhnya dunia usaha nasional melalui jaringan pengadaan barang dan distribusi di daerah masing-masing.
Perbincangan kemudian mengalir ke perjalanan politik yang pernah mereka lalui.
Andi Rachman meniti karier politik yang cemerlang. Ia pernah menjadi Anggota DPR RI selama dua periode, kemudian dipercaya sebagai Ketua KADIN Riau, sebelum melanjutkan pengabdiannya sebagai Wakil Gubernur Riau dan akhirnya menjabat Gubernur Riau.

Sementara itu, Marlis mengenang perjalanan hidupnya yang dimulai sebagai seorang ASN sekaligus guru di STM Negeri Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Keputusan meninggalkan profesi yang telah lama digelutinya menjadi titik balik yang mengantarkannya ke dunia politik hingga dipercaya masyarakat menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat selama dua periode (2009–2019).
Meski berasal dari latar belakang dan jalur pengabdian yang berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama: organisasi menjadi sekolah kepemimpinan, dunia usaha menjadi tempat menempa karakter, dan politik menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Di sela obrolan yang diselingi tawa, mereka mengenang berbagai dinamika organisasi, tantangan dunia politik, hingga perubahan zaman yang kini menuntut lahirnya lebih banyak pemimpin yang berintegritas, berpengalaman, dan memiliki kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Marlis, pertemuan itu bukan sekadar reuni dengan seorang sahabat lama. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan hanyalah titipan yang memiliki batas waktu. Persahabatan, kepercayaan, dan rekam jejak pengabdianlah yang akan terus dikenang.
Ketika cangkir kopi telah kosong, percakapan pun berakhir. Namun kenangan yang kembali hadir pagi itu meninggalkan pesan sederhana: waktu boleh berlalu, jabatan boleh berganti, tetapi persahabatan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan semangat mengabdi akan selalu menemukan jalannya untuk kembali dipertemukan.
Kadang, secangkir kopi bukan sekadar teman berbincang. Ia menjadi saksi bahwa perjalanan hidup yang panjang akan selalu indah untuk dikenang bersama sahabat seperjuangan.
Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med



Tinggalkan Balasan