- Semen Padang FC dilaporkan kembali masuk ke dalam daftar sanksi FIFA per 10 Oktober 2026 bersama lima klub sepak bola nasional lainnya.
- Kabar sanksi tersebut memicu gelombang kekecewaan dan kritik tajam dari suporter terkait transparansi finansial serta penyelesaian hak-hak pemain.
- Hingga berita diturunkan, manajemen Semen Padang FC belum memberikan keterangan resmi maupun klarifikasi terkait status sanksi tersebut.
PADANG, NUSATIME.ID — Kabar kurang sedap kembali menghantam pecinta sepak bola Sumatra Barat. Semen Padang FC dilaporkan kembali masuk dalam daftar sanksi (FIFA ban) per 10 Oktober 2026. Informasi ini sontak memicu beragam reaksi dan pertanyaan tajam dari kalangan suporter setia Kabau Sirah di Ranah Minang.
Berdasarkan penelusuran dari sejumlah akun pengamat sepak bola nasional, salah satunya unggahan di akun Instagram @infoligaindonesia, Semen Padang FC disebut-demikian mendapat satu sanksi dari otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut. Dalam unggahan yang sama, Kabau Sirah berdampingan dengan lima klub Indonesia lainnya yang turut terkena sanksi serupa, yakni PSBS Biak, Persiba Balikpapan, Kalteng Putra, Sriwijaya FC, dan Persiwa Wamena.
Kendati informasi ihwal sanksi ini telah menjadi perbincangan hangat di ruang publik digital, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi ataupun klarifikasi dari pihak manajemen Semen Padang FC terkait status sanksi FIFA tersebut.
Unggahan akun @infoligaindonesia langsung dibanjiri komentar warganet dan pendukung setia. Pemilik akun @syofanirbkt meluapkan kekesalannya menggunakan bahasa Minang, mencerminkan kelelahan mental suporter terhadap rentetan masalah klub kebanggaan mereka.
“Ba dak habis-habis masalah Semen Padang ko. Salasai iko, tibo lo yang lain. Dulu dak bantuak iko bana doh main ciamik di zaman Edward Wilson Junior aman-aman se, mungkin manajemen sekarang masih penonton di zaman tu,” tulisnya, menyitir masa kejayaan tim di era penyerang legendaris Edward Wilson Junior.

Tidak hanya di akun @infoligaindonesia, gelombang protes serupa juga terlihat pada unggahan akun @wasitmafia. Kolom komentar diramaikan oleh kritik pedas suporter terhadap aspek finansial klub.
Akun @ical_piliang menulis sindiran keras, “Tiket bisa gratis, gajian pemain eee nthallah.”Komentar ini langsung mendapat respons sinis dari suporter lain, @raflitoeroba, yang menyoroti kebijakan manajemen terkait distribusi tiket pertandingan, “Suporter tahun ko labiah maha dari pado suporter tahun patang, makonyo kami agiah see tiket gratis.”
Keresahan tidak hanya berhenti di media sosial. Di tingkat akar rumput, suporter setia yang sehari-hari mengawal perjalanan Kabau Sirah turut melontarkan kekecewaan mendalam.
Andi, salah seorang pendukung fanatik Semen Padang FC, mempertanyakan komitmen manajemen terkait penyelesaian hak-hak pemain yang sebelumnya diisukan telah tuntas.
“Kok masih ada ban FIFA? Katanya gaji pemain udah diselesaikan,” ujar Andi dengan nada tanya penuh kecewa.
Senada dengan Andi, Hendra selaku rekan sesama suporter menduga masalah ini bisa jadi merupakan warisan birokrasi masa lalu yang belum terselesaikan secara tuntas. “Apa ini masih utang manajemen lama?” imbuhnya mempertanyakan transparansi internal klub.
Masuknya kembali Semen Padang FC ke dalam daftar sanksi FIFA menjadi preseden buruk bagi iklim pembinaan dan profesionalisme klub berjuluk Kabau Sirah ini. Sebagai tim kebanggaan masyarakat Sumatra Barat yang memiliki sejarah panjang di kancah sepak bola nasional, kejelasan informasi dari manajemen mutlak diperlukan.
Publik sepak bola Ranah Minang kini menanti langkah cepat, transparan, dan terukur dari jajaran manajemen Semen Padang FC. Transparansi bukan hanya soal meredam gejolak di media sosial, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral kepada ribuan suporter yang selalu setia mendampingi klub dalam suka maupun duka. (**)



Tinggalkan Balasan