Rangkuman Utama
  • Banjir bandang susulan yang berulang kali menerjang Sungai Batang Tumayo, Kabupaten Agam, menyebabkan kerusakan pada sejumlah titik pagar bronjong sepanjang 920 meter yang baru selesai dibangun oleh BWS Sumatera V Padang.
  • Tingginya intensitas hujan di wilayah hulu memicu banjir bandang lebih dari 10 kali, sehingga material sedimen kembali menimbun alur sungai dan merusak struktur pelindung tebing yang telah dinormalisasi.
  • Pembangunan sabo dam di bagian hulu dinilai sangat mendesak guna mengendalikan aliran material banjir dan melindungi sekitar 50 kepala keluarga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

NUSATIME.ID – Banjir bandang susulan yang berulang kali menerjang Sungai Batang Tumayo, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyebabkan sejumlah titik pagar bronjong kembali mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadi kendala dalam upaya pengendalian banjir di kawasan itu.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang sebelumnya telah memasang pagar bronjong sepanjang 920 meter di sepanjang sungai tersebut sebagai langkah untuk mengantisipasi banjir bandang susulan.

Pengawas Lapangan, Deden Pratama, di Lubuk Basung, Sabtu, mengatakan pekerjaan pemasangan bronjong telah dimulai sejak akhir Agustus 2026.

“Pemasangan pagar bronjong sepanjang 220 meter di bagian kiri sungai dan sekitar 700 meter di bagian kanan,” katanya.

Ia menjelaskan, pemasangan bronjong dilakukan setelah pekerjaan normalisasi sungai dengan mengerahkan enam unit alat berat. Pengerjaan tersebut juga melibatkan sekitar 50 pekerja.

Secara keseluruhan, progres pemasangan pagar bronjong telah mencapai 100 persen. Namun, curah hujan tinggi yang memicu banjir bandang susulan menyebabkan material dari hulu kembali menimbun alur sungai dan merusak sejumlah bagian bronjong yang telah terpasang.

“Saat ini kami sedang memperbaiki beberapa titik pasangan pagar bronjong yang rusak akibat banjir bandang susulan,” ujar Deden.

Sementara itu, Wali Jorong Labuah, Elbama, mengatakan banjir bandang susulan di Sungai Batang Tumayo telah terjadi lebih dari 10 kali ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Menurutnya, banjir dapat terjadi dalam waktu singkat setelah hujan deras turun di wilayah hulu sungai.

“Apabila curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu di hulu sekitar 15 menit, maka terjadi banjir bandang,” katanya.

Ia menjelaskan, normalisasi sungai dan pemasangan bronjong yang telah dilakukan belum mampu sepenuhnya mengatasi ancaman banjir bandang. Material yang terbawa arus dari hulu kembali menimbun sungai hingga membuat alurnya menjadi datar, sekaligus merusak struktur pelindung tebing.

Karena itu, pembangunan sabo dam di bagian hulu dinilai mendesak untuk mengendalikan aliran material yang terbawa banjir bandang. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak banjir dan melindungi permukiman warga di sepanjang sungai.

“Pembangunan sabo dam sangat mendesak agar 50 kepala keluarga yang tinggal di sepanjang sungai menjadi aman dari banjir bandang susulan,” kata Elbama.

Ancaman banjir bandang yang terus berulang menunjukkan bahwa penanganan Sungai Batang Tumayo tidak cukup hanya melalui normalisasi dan pemasangan bronjong.

Pembangunan pengendali sedimen di hulu serta perbaikan bagian yang rusak menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan keselamatan masyarakat setempat.