Oleh : Drs.H.Marlis,MM,C.Med
(Ketum DPN ASANTARA)

NUSATIME.ID – Di zaman media sosial, ada orang yang seperti membuka kantor di WhatsApp Group (WAG). Hampir setiap postingan dikomentari, setiap pendapat disanggah, setiap penjelasan diperdebatkan. Jam kerjanya panjang, hasil kerjanya: percakapan makin panas, persoalan tetap di tempat.

Dalam ungkapan Minang, kebiasaan berdebat kusir semacam ini disebut BASIRANGAK. Semua sibuk mempertahankan pendapat, enggan mengoreksi diri. Yang penting lawan kehabisan tenaga dan dirinya mendapat kata terakhir.

Dialah Juara SIRANGAK: bertanding tanpa diundang, mengangkat piala yang dibelinya sendiri.

Dikirimi informasi, mencari celah. Diberi penjelasan, menggeser persoalan. Disodori data, menyerang pembawanya. Ketika orang berhenti menanggapi, ia merasa menang. Padahal, orang lain sedang bekerja atau punya tanggung jawab yang lebih penting daripada melayani pertengkaran tanpa ujung.

Bagi sebagian orang, ketika aktivitas produktif kurang terarah, WAG bisa menjadi tempat menumpahkan kebutuhan untuk diakui. Aktualisasi diri disalurkan lewat komentar dan sanggahan, seolah setiap percakapan harus membuktikan bahwa dialah yang paling pintar, paling hebat, paling jago—dan segala “paling” lainnya.

Semua jabatan dirangkap: ahli segala bidang, penguji seluruh pendapat, sekaligus juri yang memenangkan dirinya sendiri. Itulah panggung SOK HEBAT.

Tentu, banyak berkomentar tidak otomatis berarti kurang pekerjaan. Namun, jika sepanjang hari tersedia waktu untuk menguliti gagasan orang, sementara karya sendiri tak kunjung terlihat, wajar muncul pertanyaan: sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan selain pengakuan? Atau memang TIDAK ADA TOKOK ADOK ( Pekerjaan )

Lebih melelahkan jika dibumbui tabiat SMS: Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang. Orang berhasil, dituduh pamer. Orang berbuat baik, dicurigai mencari nama. Orang membuka usaha, langsung diramalkan gagal. Seolah kebahagiaan orang lain harus mengantongi izin darinya.

Kritik tentu diperlukan. Tetapi kritik yang berguna punya alasan, menjaga adab, dan bersedia menerima koreksi. Jika setiap percakapan harus berakhir dengan pengakuan bahwa dirinya paling benar, grup telah berubah menjadi panggung pemujaan ego.

Jangan sampai paling rajin mengoreksi pekerjaan orang, tetapi pekerjaan sendiri terbengkalai. Paling fasih menjelaskan kesalahan, tetapi mendadak kehilangan sinyal ketika diminta ikut menyelesaikan.

Ada waktunya berbicara, ada waktunya mendengar, dan ada waktunya menutup layar untuk bekerja.

Sebab, hidup tidak menyediakan medali untuk komentar terakhir. Jangan sampai juara BASIRANGAK, tetapi absen ketika saatnya berkarya. ( JAGO LAH LAI !!!! )