PADANG, NUSATIME.ID — Ada beragam alasan mengapa seseorang berambisi merebut kursi DPRD. Mulai dari yang mulia seperti panggilan pengabdian, memperjuangkan suara rakyat, hingga retorika membangun daerah.

Namun, seorang anggota DPRD kota di Sumatera Barat punya alasan yang jauh lebih sederhana, jujur, sekaligus mengocok perut.

Dalam sebuah obrolan santai bersama koleganya, sang legislator berseloroh bahwa hal paling membahagiakan menjadi anggota dewan ternyata bukan perkara gaji bulanan.

“Kalau gaji, itu biasa,” tuturnya kelakar.

“Yang paling asyik itu… menenteng koper!”

Sejak resmi dilantik, katanya, koper mendadak naik status jadi ‘pasangan dinas’ paling setia. Baru saja mendarat dari luar daerah dan koper belum sempat menyentuh lantai rumah, panggilan perjalanan dinas berikutnya sudah menanti.

Resleting koper pun hampir tak pernah beristirahat. Memasukannya kembali ke dalam lemari hanya akan menjadi pekerjaan sia-sia.

Saking intensnya lalu lalang di area keberangkatan, ia berseloroh petugas bandara bahkan sampai hafal wajahnya. Kalau saja ia absen muncul beberapa pekan, petugas bandara mungkin bakal saling lempar tanya penuh cemas.

“Pak Dewan ke mana, ya?”

“Kurang tahu juga.”

“Sehat beliau?”

“Sehat, sih…”

“Lho, kok belakangan tak kelihatan bawa koper?”

Bagi masyarakat umum, bandara adalah gerbang keberangkatan. Namun bagi legislator yang hobi perjalan dinas, gerbang penerbangan itu sudah terasa layaknya teras rumah sendiri.

Karpet Merah dan Kursi Depan

Kemewahan menjadi wakil rakyat tak berhenti di urusan boarding pass. Ada satu privileges lain yang kerap membuat dada sedikit membusung: kursi barisan paling depan.

Setiap kali menghadiri acara resmi, anggota dewan tak perlu pusing celingak-celinguk mencari tempat kosong. Panitia acara biasanya sudah bersiap menyambut dengan gestur membungkuk penuh hormat.

“Silakan, Pak Dewan. Di barisan depan.”

Sungguh magis. Belum sempat mendaratkan pantat di atas busa empuk, rasa menjadi ‘orang penting’ sudah merayap ke dada.

Jika warga biasa yang datang terlambat harus rela berdiri di sudut belakang, wakil rakyat yang datang kapan saja sudah ditunggu oleh kursi khusus. Lengkap dengan kertas nama yang tertempel rapi di sandaran.

Tinggal duduk, melempar senyum ramah, dan saat kamera fotografer melintas—cukup tegakkan badan sedikit.

Klik! Sempurna untuk jepretan media sosial.

Catatan di Balik Kelakar

Kisah ringan ini tentu sekadar seloroh di ruang rehat. Namun, humor ini menjadi sangat relevan karena menelanjangi sisi protokol dan rutinitas pejabat publik yang jarang disorot: perjalanan dinas, fasilitas kelas wahid, dan romantisme dihormati.

Namun, tentu ada garis tegas antara humor dan realitas tanggung jawab.

Menjadi legislator bukanlah ajang mengumpulkan sebanyak mungkin stempel penerbangan, bukan pula perlombaan mengamankan posisi duduk paling depan di setiap resepsi. Rakyat memilih wakilnya bukan untuk menghitung berapa ribu kilometer koper mereka telah terbang, melainkan seberapa jauh dampak perjuangan yang dibawa pulang ke daerah pemilihan.

Boleh saja koper itu terus melalang buana. Silakan pula menikmati hangatnya sorotan di kursi terdepan.

Tetapi ingat, saat kembali dari perjalanan dinas, jangan hanya muatan koper yang bertambah berat oleh oleh-oleh. Harus ada hasil nyata, kebijakan pro-rakyat, dan solusi konkret yang ditengteng pulang.

Sebab jika selama lima tahun masa jabatan yang paling sibuk dan paling banyak ‘bekerja’ cuma sang koper, jangan salahkan rakyat jika pada Pemilu mendatang mereka justru melirik kandidat yang lebih berpengalaman: si koper itu sendiri.

Setidaknya, koper tersebut punya rekam jejak perjalanan dinas yang paling tinggi. (*/Redaksi)