Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)
Dalam lanskap sepak bola profesional, mendatangkan legiun asing bukanlah sekadar agenda pelengkap kuota pendaftaran pemain. Filosofi dasarnya amat sederhana, pemain asing dihadirkan untuk menjadi pilar utama, penopang tim, dan pembeda kualitas di lapangan.
Konsekuensi dari nilai kontrak mereka yang jauh di atas rata-.rata pemain lokal melahirkan tuntutan logis, mereka wajib membuktikan bahwa harga mahal itu sebanding dengan kontribusi nyata.
Namun, realita yang tersaji dalam dinamika permainan Semen Padang FC musim ini justru memantik kerutan dahi para pengamat sepak bola di Sumatera Barat hingga pencinta Kabau Sirah di Ranah Minang.
Di mata para pengamat lokal, dari jajaran pemain asing yang diikat manajemen, praktis hanya Igor Cukovic yang dinilai benar-benar layak menyandang predikat sebagai tulang punggung tim.

Bek tengah tersebut mampu menunjukkan ketenangan, visi bertanding, dan kapasitas kepemimpinan yang diharapkan dari seorang legiun impor.
Sayangnya, cerita berbeda justru datang dari dua nama lain, Lazar Zlicic dan Bruno Dybal (atau deretan legiun serang asing yang dipercaya). Performa mereka dinilai sangat jauh dari panggang api.
Gambarannya terlihat jelas saat pertandingan berlangsung. Selama 45 menit babak pertama berada di lapangan, kontribusi mereka nyaris tak berjejak. Alur serangan kerap mandek, kreativitas tumpul, dan Semen Padang FC praktis bertanding tanpa mampu menciptakan peluang berbahaya. Parameter kualitas mereka bahkan dinilai para pendukung kalah jauh ketimbang kedalaman skuad lokal.
Bukti sahih di lapangan tersaji seusai jeda. Ketika pelatih mengambil keputusan tegas untuk menarik keluar dua pemain asing tersebut dan memasukkan tenaga lokal pada babak kedua, wajah permainan Semen Padang FC mendadak berubah drastis.
Permainan tim menjadi jauh lebih hidup, aliran bola bergerak cepat, determinasi meningkat, hingga akhirnya gol yang dinanti mampu tercipta.
Fenomena ini menyisakan pertanyaan besar di benak publik. Mengapa pemain asing dengan kualitas yang belum melampaui talenta lokal ini tetap diikat oleh manajemen?
Kasus di Semen Padang FC ini menjadi cermin besar bagi peranan pemain asing di Liga Indonesia secara keseluruhan. Perekrutan pemain impor seharusnya didasari pada kebutuhan analitis dan pemantauan (scouting) yang matang, bukan sekadar melihat rekam jejak di atas kertas.
Ketika legiun asing gagal menjadi pembeda dan justru membebani alur taktik tim, manajemen dituntut untuk berani mengambil sikap evaluatif. Sebab pada akhirnya, nama besar dan nilai kontrak tinggi tidak akan pernah ada artinya jika tidak mampu memberi dampak di atas rumput hijau. (**)



Tinggalkan Balasan