Rangkuman Utama
  • Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menegaskan pentingnya penguatan literasi demokrasi dan pendidikan politik berkelanjutan guna membangun pemilih yang rasional menjelang Pemilu 2029.
  • KPU RI menyoroti rendahnya angka partisipasi pemilih di Sumatera Barat pada Pilkada 2024 yang hanya mencapai 57 persen, berada di bawah rata-rata nasional sebesar 71,39 persen.
  • KPU memacu edukasi pemilih sejak dini dengan memanfaatkan teknologi informasi serta pendekatan khusus bagi Generasi Milenial dan Generasi Z yang mendominasi hampir 60 persen pemilih.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PESISIR SELATAN, NUSATIME.ID— Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, menegaskan pentingnya penguatan literasi demokrasi dan pendidikan politik yang berkelanjutan bagi masyarakat. Langkah ini dinilai sangat krusial demi meningkatkan partisipasi serta kualitas pemilih dalam menyongsong Pemilu 2029 mendatang.

Pesan tersebut disampaikan Vasko saat menjadi narasumber pada agenda Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumbar di Aula UPTD Pelabuhan Perikanan Wilayah I Carocok Painan, Pesisir Selatan, Sabtu (12/9/2026).

Dalam paparannya, Vasko menggarisbawahi bahwa hakekat demokrasi tidak boleh sebatas dimaknai sebagai ritual mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Lebih dari itu, publik dituntut memahami secara utuh mekanisme sistem politik beserta implikasi dari setiap suara yang mereka berikan.

“Yang kita harapkan bukan hanya masyarakat datang ke TPS dan menggunakan hak pilih, tetapi juga memahami mengapa mereka memilih dan apa konsekuensi dari pilihan tersebut,” ujar Vasko di hadapan peserta sosialisasi.

Ia menambahkan, edukasi politik tidak boleh bersifat musiman yang hanya mencuat saat tahapan Pemilu atau Pilkada dimulai. Pembentukan watak pemilih yang rasional, kritis, dan bertanggung jawab memerlukan proses pendampingan yang konsisten dan berkesinambungan.

Menanggapi fenomena rendahnya partisipasi masyarakat pada ajang Pilkada dibanding Pemilu Presiden, Vasko mengimbau agar strategi pendekatan ke masyarakat diubah menjadi lebih inklusif dan dialogis.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, penyelenggara Pemilu, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat perlu mengambil peran dalam membangun budaya demokrasi yang sehat,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Anggota KPU RI, Dr. Betty Epsilon Idroos, mengungkapkan bahwa kerja-kerja pendidikan pemilih harus dipacu dari sekarang mengingat tahapan gpersiapan Pemilu 2029 bakal bergulir secara bertahap mulai tahun 2027.

Betty membeberkan catatan kritis terkait angka partisipasi pemilih di Sumatera Barat pada Pilkada 2024 lalu yang berada di angka 57 persen—masih di bawah rata-rata nasional yang menyentuh 71,39 persen. Angka ini menjadi sinyal kuat perlunya edukasi publik yang lebih masif.

“Pemilih kita didominasi Generasi Milenial dan Generasi Z yang jumlahnya hampir 60 persen. Karena itu, pendekatan pendidikan pemilih juga harus mampu menjangkau dan sesuai dengan karakter generasi muda,” jelas Betty.

Lebih lanjut, Betty mengingatkan bahwa hasil Pemilu berimbas langsung pada arah kebijakan publik, kualitas pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, hingga ketersediaan lapangan kerja.

Guna memperluas jangkauan edukasi di era digital, KPU berkomitmen memanfaatkan teknologi informasi sebagai media simulasi dan sosialisasi kepemiluan, sekaligus menjamin aksesibilitas bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas agar proses Pemilu mendatang berlangsung fully inclusive.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran KPU Provinsi Sumbar, Kepala Badan Kesbangpol Sumbar Mursalim, jajaran KPU Kabupaten Pesisir Selatan, Camat Koto XI Tarusan, serta deretan tokoh masyarakat setempat. yang sehat,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Anggota KPU RI, Dr. Betty Epsilon Idroos, mengungkapkan bahwa kerja-kerja pendidikan pemilih harus dipacu dari sekarang mengingat tahapan persiapan Pemilu 2029 bakal bergulir secara bertahap mulai tahun 2027.

Betty membeberkan catatan kritis terkait angka partisipasi pemilih di Sumatera Barat pada Pilkada 2024 lalu yang berada di angka 57 persen—masih di bawah rata-rata nasional yang menyentuh 71,39 persen. Angka ini menjadi sinyal kuat perlunya edukasi publik yang lebih masif.

“Pemilih kita didominasi Generasi Milenial dan Generasi Z yang jumlahnya hampir 60 persen. Karena itu, pendekatan pendidikan pemilih juga harus mampu menjangkau dan sesuai dengan karakter generasi muda,” jelas Betty.

Lebih lanjut, Betty mengingatkan bahwa hasil Pemilu berimbas langsung pada arah kebijakan publik, kualitas pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, hingga ketersediaan lapangan kerja.

Guna memperluas jangkauan edukasi di era digital, KPU berkomitmen memanfaatkan teknologi informasi sebagai media simulasi dan sosialisasi kepemiluan, sekaligus menjamin aksesibilitas bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas agar proses Pemilu mendatang berlangsung fully inclusive.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran KPU Provinsi Sumbar, Kepala Badan Kesbangpol Sumbar Mursalim, jajaran KPU Kabupaten Pesisir Selatan, Camat Koto XI Tarusan, serta deretan tokoh masyarakat setempat. (**)