Rangkuman Utama
  • Muhamad Dody Fachrudin resmi dipromosikan sebagai Direktur Dana Transfer Khusus Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan RI setelah sebelumnya menjabat Kepala Kanwil DJPb Sumatera Barat.
  • Ketua DPW HMD GEMAS Sumatera Barat, Marlis, menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas penugasan baru tersebut yang dinilai sebagai bukti integritas, kompetensi, dan reputasi profesional Dody di panggung nasional.
  • Selama masa tugasnya di Sumatera Barat, Dody dinilai berhasil membangun sinergi strategis lintas lembaga, salah satunya melalui nota kesepahaman dalam mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, NUSATIME.IDJabatan bisa diberikan, tetapi kepercayaan harus dibangun. Bagi seorang profesional, promosi bukanlah sekadar rotasi menuju posisi yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ia adalah bentuk pengakuan atas rekam jejak panjang dalam merawat integritas, memperkuat kompetensi, dan menghadirkan kebermanfaatan nyata.

Fase kepemimpinan baru itulah yang kini resmi dijalani Mohammad Dody Fachrudin. Usai menuntaskan pengabdiannya sebagai Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Barat, ia mengemban amanah baru di panggung nasional sebagai Direktur Dana Transfer Khusus pada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan RI.

Kepindahan tersebut mendulang apresiasi dan rasa bangga dari berbagai pihak di daerah, salah satunya dari Dewan Pimpinan Wilayah Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (DPW HMD GEMAS) Provinsi Sumatera Barat.

Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar, Drs. H. Marlis, MM, C.Med, menyampaikan ucapan selamat sekaligus rasa bangga atas capaian tersebut.

“Atas nama pribadi, keluarga, dan DPW HMD GEMAS Provinsi Sumatera Barat, saya mengucapkan selamat atas promosi Bapak Mohammad Dody Fachrudin. Semoga amanah baru ini semakin mengantarkan beliau pada kesuksesan, kebermanfaatan, dan keberkahan,” ujar Marlis.

Bagi keluarga besar DPW HMD GEMAS Sumbar, sosok Dody meninggalkan rekam jejak kepemimpinan yang partisipatif. Saat menjabat Kepala Kanwil DJPb Sumbar, Dody bersama DPW HMD GEMAS Sumbar sempat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat pembinaan dan dukungan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Barat.

Bagi HMD GEMAS Sumbar, MoU tersebut memiliki bobot moral yang melampaui seremoni penandatanganan dokumen di atas kertas. Langkah ini mencerminkan keterbukaan seorang birokrat untuk merangkul dan membina para pemangku kepentingan yang mengeksekusi program vital di lapangan.

Di tengah kompleksitas tantangan Program MBG—mulai dari ketaatan tata kelola, peningkatan kapasitas mitra, hingga keberlanjutan program—komunikasi dan pembinaan lintas lembaga menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem yang sehat dan profesional.

Di titik inilah, Dody dinilai berhasil memperlihatkan atribut penting seorang pemimpin adaptif: tidak terjebak dalam batas administratif, tetapi aktif membuka ruang kolaborasi.

“MoU yang pernah kita sepakati menjadi catatan penting bagi HMD GEMAS Sumbar. Kami merasakan komitmen nyata Pak Dody untuk membina, mendukung, dan memperkuat sinergi demi menyukseskan Program MBG di Ranah Minang,” ungkap Marlis.

Kini, ruang pengabdian Dody membentang lebih luas. Sebagai Direktur Dana Transfer Khusus, ia memegang peran strategis dalam mengelola hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah. Pengalaman lapangan serta pemahamannya atas dinamika daerah selama memimpin Kanwil DJPb Sumbar menjadi modal berharga dalam mengemban tugas anyar tersebut.

Perjalanan karier Dody, lanjut Marlis, memberikan pesan berharga bagi para profesional muda bahwa karier yang solid tidak dapat dibangun dalam sekejap.

Karier yang tahan uji dibentuk melalui konsistensi kerja, kompetensi, keberanian menjaga integritas, kepiawaian membangun jaringan, serta keberanian memberikan dampak nyata di manapun ditempatkan.

Pada akhirnya, kelas seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa megah jabatan yang disandangnya, melainkan dari legacy atau warisan kebaikan yang ditinggalkannya.

Apa perubahan positif yang dihadirkan saat memimpin? Sinergi apa yang berhasil diikat? Dan seberapa besar dampak kebermanfaatan yang tetap berdenyut meski masa tugasnya telah usai?

Sebab, kursi jabatan akan selalu berganti pemangku. Namun reputasi, integritas, dan hubungan baik yang telah ditanam akan terus hidup melampaui masa jabatan itu sendiri.

“Jabatan adalah amanah sementara, tetapi reputasi adalah investasi jangka panjang. Kolaborasi adalah kekuatan, dan kebermanfaatan adalah legacy sejati seorang pemimpin,” tegas Marlis.

Pelepasan Dody ke Jakarta bukan sekadar perpisahan prosedural dengan seorang pejabat negara yang pernah bertugas di Sumatera Barat. Lebih dari itu, ada jejak kebersamaan dan sinergi mendalam yang ditinggalkan.

“Selamat bertugas di tempat yang baru, Pak Dody. Kami melepas dari Sumatera Barat dengan rasa bangga dan iringan doa. Semoga semakin sukses dan barokah. Kami berharap silaturahmi serta sinergi yang telah terbangun tetap terjaga, dan amanah baru ini menjadi ruang pengabdian yang kian luas bagi bangsa dan negara,” tutup Marlis.

Selamat bertugas di panggung nasional. Sebab, ujian sejati seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi ia memanjat tangga karier, melainkan seberapa banyak jejak kebaikan yang ditinggalkannya sepanjang perjalanan.(**)