Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)
Sepak bola profesional adalah urusan detail kecil. Namun, apa yang terjadi pada Semen Padang FC di awal musim Championship 2026/2027 bukan lagi soal detail yang terlewat, melainkan ironi fatal. Belum lagi peluit pertama ditiup, Kabau Sirah sudah dipaksa berlutut di papan bawah tabel klasemen, bukan karena kekalahan taktik di rumput hijau, melainkan karena blunder di atas kertas dokumen.
Pengurangan satu poin akibat ketidaksesuaian pendaftaran homebase adalah tamparan keras yang memalu wajah profesionalisme manajemen.
Mendaftarkan Stadion GBLA Bandung demi mengejar tenggat club licensing, lalu berpindah ke Stadion Patriot Bekasi karena alasan beban finansial dan operasional, memperlihatkan betapa rapuhnya perencanaan strategis klub.
Manajemen bertindak seolah regulasi PT LIB adalah petunjuk yang bisa ditawar di tengah jalan. Akibatnya? Efisiensi biaya yang dikejar justru dibayar mahal dengan harga diri dan poin kompetisi.

Dampak dari kecerobohan administratif ini merambat ke mana-mana. Memulai musim dengan defisit -1 poin memberikan beban psikologis yang tak perlu bagi para pemain. Mereka tak hanya bertanding melawan tim lawan, tetapi juga bertanding melawan ketertinggalan buatan manajemennya sendiri.
Bermain di luar Sumatera Barat mencabut roh permainan Kabau Sirah. Tanpa gelegar suporter di Stadion H. Agus Salim, Semen Padang FC bertanding seperti anak hilang yang kehilangan home advantage dan kehangatan rumah sendiri.
Kekecewaan suporter di media sosial adalah cerminan rasa lelah. Kata “alun apo-apo lah potong ateh” bukan sekadar gurauan Minang, melainkan sindiran satir atas tata kelola klub yang terkesan amatir.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Sikap lapang dada manajemen dalam menerima sanksi hanya akan berarti jika diikuti dengan pembenahan total di tubuh internal.
Kini, beban berat itu bergeser sepenuhnya ke pundak pelatih dan pemain di lapangan. Jika manajemen telah gagal mengamankan poin di meja administrasi, maka para pemainlah yang harus menebusnya di atas rumput hijau. Laga pembuka melawan Persiraja Banda Aceh tidak boleh lagi sekadar diincar dengan hasil imbang, kemenangan adalah harga mati untuk mengikis stigma negatif dan membuktikan bahwa semangat bertarung Kabau Sirah jauh lebih besar daripada kecerobohan pengurusnya.(**)



Tinggalkan Balasan