AGAM, NUSATIME.ID — Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Batu Palano, Adityawarman Dt. Rangkayo Tangah, menegaskan bahwa pada dasarnya masyarakat nagari maupun desa tidak menolak program pembangunan strategis nasional yang digagas oleh pemerintah.
Meski demikian, terkait rencana pembangunan jalan tol di wilayah Kabupaten Agam, ia menjelaskan bahwa saat ini prosesnya dihentikan sementara (stop) guna mendiskusikan berbagai hal yang memerlukan kesepakatan bersama. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh perwakilan dari pusat, di wilayah Agam sendiri direncanakan tidak ada jalur utama jalan tol, melainkan hanya menyangkut jalur keluar (exit tol) serta penerimaan jalur jalan melingkar (bypass).
“Secara umum kita di nagari atau di desa tidak menolak pembangunan. Namun untuk masalah tol, tentu ada hal-hal yang perlu dibicarakan. Untuk sementara tentang tol kita stop. Di Agam tidak ada jalan tol, hanya exit tol dan penerimaan bypass,” ujar Adityawarman usai menghadiri pertemuan dengan pihak terkait.
Ia menambahkan, masyarakat menyambut baik rencana pembangunan bypass karena dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga nagari dan masyarakat sekitar. Jalur bypass tersebut diperkirakan membutuhkan lebar lahan sekitar 20 meter.
Namun, terkait titik lokasi serta pembebasan lahan untuk exit tol, pihak nagari menilai masih memerlukan pembahasan lebih detail dari tingkat bawah. Pengukuran dan penentuan titik exit tol diprediksi membutuhkan ruang lebih dari 20 meter sehingga komunikasi secara berjenjang sangat krusial agar tidak menimbulkan kendala di kemudian hari.

“Pelajaran penting bagi kita adalah komunikasi harus dibangun dari bawah. Jika komunikasi ini dilakukan sejak awal dari tingkat dasar, tentu situasinya tidak akan seperti sebelumnya. Mudah-mudahan ke depan komunikasi ini berjalan lancar untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (**)



Tinggalkan Balasan